Jakarta – Ketidakpastian geopolitik dan terganggunya jalur pasok energi kembali menegaskan rapuhnya ekonomi dunia yang masih bergantung pada bahan bakar fosil. Di tengah kondisi itu, gejolak harga minyak ikut menekan biaya energi, memicu risiko inflasi, dan berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga.
Head of Investment Specialist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Freddy Tedja menilai, selama arus dan volume pasokan energi belum pulih sepenuhnya, volatilitas harga minyak masih akan menjadi perhatian utama pasar. Karena itu, menurut dia, transisi energi kini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar agenda penurunan emisi.
“Transisi energi kini tidak lagi hanya berbicara tentang komitmen lingkungan. Ketidakpastian pasokan dan volatilitas harga energi fosil menunjukkan pentingnya membangun sistem energi yang lebih beragam dan berdaya tahan,” ujar Freddy dalam keterangannya, Rabu (30/9).
Ia menjelaskan, situasi tersebut mendorong kebutuhan terhadap energi rendah karbon, elektrifikasi, efisiensi energi, dan penguatan keamanan sumber daya. Dengan kata lain, transisi menuju ekonomi rendah karbon kini juga dipandang sebagai upaya menjaga ketahanan energi global.
Freddy menegaskan, perubahan itu tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan pembangkit berbasis energi terbarukan. Ekosistem yang dibutuhkan jauh lebih luas, mulai dari jaringan listrik, teknologi penyimpanan energi, kendaraan listrik, peralatan hemat energi, hingga mineral dan material pendukung elektrifikasi.
“Ketika mendengar transisi energi, banyak orang langsung membayangkan panel surya atau turbin angin. Padahal, perubahan ini mencakup rantai nilai yang jauh lebih luas,” katanya.
Menurut dia, elektrifikasi menuntut ketersediaan jaringan, material, teknologi, serta efisiensi dalam skala besar. Artinya, peluang investasi dari tema transisi energi tidak terbatas pada emiten produsen energi bersih semata.
MAMI mengidentifikasi sedikitnya empat tema investasi yang berkaitan dengan pergeseran tersebut, yakni energi rendah karbon, material pendukung transisi, efisiensi dan elektrifikasi, serta ketersediaan dan keamanan sumber daya.
Bagi investor Indonesia, ruang untuk menangkap peluang itu di pasar modal domestik masih terbatas. Meski tersedia banyak emiten di sektor energi dan sumber daya, jumlah perusahaan yang memperoleh pendapatan utama dari solusi transisi energi global masih belum banyak.
Dalam konteks itu, investasi global dinilai bisa menjadi opsi untuk memperluas diversifikasi portofolio ke perusahaan maupun subsektor yang belum banyak hadir di pasar dalam negeri. Reksa dana lokal dan global pun dianggap saling melengkapi.
“Reksa dana lokal dapat memberikan eksposur terhadap pertumbuhan Indonesia. Sementara reksa dana global membuka akses terhadap tema dan perusahaan yang belum tentu tersedia secara memadai di pasar lokal,” tutur Freddy.
Diversifikasi lintas negara juga memberi paparan terhadap mata uang berbeda. Berdasarkan data MAMI, selama 10 tahun hingga 2026, rupiah rata-rata terdepresiasi sekitar 3 persen per tahun terhadap dolar AS. Pada periode yang sama, inflasi Indonesia rata-rata juga berada di kisaran 3 persen per tahun.
MAMI menilai, diversifikasi mata uang dapat menjadi salah satu cara menyebarkan risiko nilai tukar sekaligus menjaga daya beli aset. Sejalan dengan itu, dana kelolaan reksa dana lokal dalam dolar AS tercatat naik US$388 juta atau 13 persen secara year to date hingga pertengahan 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan meningkatnya minat terhadap instrumen berdenominasi dolar AS sebagai alternatif diversifikasi.
Bank Indonesia juga mencatat posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) Indonesia mencapai US$571,5 miliar pada kuartal II 2026. Angka itu naik 1,9 persen secara kuartalan dari US$560,7 miliar pada kuartal sebelumnya.
Untuk menjawab kebutuhan diversifikasi, MAMI menawarkan Manulife Saham Syariah ESG Transisi Global Dolar AS (Maget). Produk ini menempatkan portofolio pada efek luar negeri yang berfokus pada perusahaan global terkait transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Strategi Maget mencakup empat tema utama yang sama, yaitu energi rendah karbon, material pendukung transisi, efisiensi dan elektrifikasi, serta ketersediaan dan keamanan sumber daya. Eksposur tersebut juga dapat menjadi pilihan diversifikasi bagi investor yang portofolio globalnya sudah terkonsentrasi pada saham teknologi.
Freddy mengingatkan, tema transisi energi merupakan investasi jangka panjang. Karena itu, investor perlu menyesuaikannya dengan tujuan dan horizon masing-masing.
“Menyesuaikan tujuan investasi dan kendaraan investasi menjadi salah satu upaya mengoptimalkan potensi kinerja,” kata Freddy.
Ia menambahkan, pasar finansial selalu bergerak dinamis sehingga fluktuasi jangka pendek merupakan bagian yang wajar dalam proses investasi.


