Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan harga pangan sebagai salah satu pendorong utama tekanan inflasi pada September 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami inflasi tahunan 4,37 persen, sekaligus menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi umum.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, tekanan harga pangan perlu dicermati karena masih dibayangi potensi cuaca ekstrem. Ia menyinggung prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai El Nino pada 2026 yang diperkirakan bisa bertahan hingga awal 2027.
“BMKG telah merilis prediksi El Nino di tahun 2026 yang berpotensi bertahan hingga awal tahun 2027. Hal ini perlu menjadi perhatian terkait dampaknya terhadap perubahan harga terutama pada komoditas pangan,” ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10).
Pada periode yang sama, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi andil 1,28 persen terhadap inflasi nasional. Sejumlah komoditas menjadi pendorong utama kenaikan harga, antara lain ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, dan daging sapi.
Tekanan serupa juga tampak pada komponen harga bergejolak atau volatile food. BPS mencatat kelompok ini mengalami inflasi tahunan 5,03 persen dengan kontribusi 0,83 persen terhadap inflasi September.
Di dalam komponen tersebut, daging ayam ras, cabai rawit, beras, dan daging sapi menjadi komoditas yang paling dominan memberi tekanan harga.
Secara bulanan, inflasi September 2026 tercatat 0,30 persen month to month (mtm). Pada level bulanan ini, kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali memberi kontribusi terbesar dengan inflasi 0,88 persen dan andil 0,26 persen.
Menurut Ateng, kenaikan harga pangan tidak lepas dari kondisi produksi di berbagai sentra. Produksi cabai rawit, misalnya, tercatat menurun di Garut, Temanggung, Bandung, Sampang, dan Magelang.
Penurunan juga terjadi pada cabai merah, terutama di Bandung, Garut, dan Malang. Sebaliknya, produksi bawang merah justru meningkat di Bima, Probolinggo, dan Malang.
Selain faktor pasokan, harga daging ayam ras ikut terdorong oleh kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah serta kenaikan harga pakan ternak.
BPS mencatat inflasi keseluruhan pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan. Adapun inflasi tahun kalender berada di level 2,17 persen.
Ateng menegaskan, prospek El Nino yang dapat berlanjut hingga awal 2027 perlu menjadi perhatian dalam membaca arah harga pangan ke depan. Ia juga menyebut proyeksi luas panen padi pada Januari-November 2026 sebesar 10,56 juta hektare, lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2025.


