Jakarta, Gonesia.com – Investor asing menunjukkan pola transaksi yang kontradiktif dengan mencatatkan aksi jual bersih secara volume namun justru membukukan beli bersih senilai Rp398,2 miliar pada perdagangan Bursa Efek Indonesia, Rabu, 9 September 2026.
Lonjakan aktivitas pasar ini tercermin dari total nilai transaksi bursa yang menanjak signifikan menjadi Rp15,8 triliun dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level Rp13,7 triliun.
Dinamika perdagangan pada indeks LQ45 dan deretan saham terpilih lainnya diwarnai oleh aksi beli masif pada emiten berkapitalisasi besar.
PT Merdeka Battery Materials (MBMA) mencatatkan performa paling impresif dengan kenaikan harga sebesar 9,80 persen.
Pencapaian tersebut menempatkan MBMA sebagai pemimpin penguatan di antara 20 saham gabungan yang dipantau.
Sentimen positif juga merambat ke sektor pertambangan logam lainnya, yakni PT Merdeka Copper Gold (MDKA) yang melesat 8,33 persen.
Tidak ketinggalan, PT Amman Mineral Internasional (AMMN) turut menguat dengan kenaikan harga sebesar 5,90 persen.
Di kelompok saham LQ45, PT Indah Kiat Pulp & Paper (INKP) menjadi sorotan utama setelah mencatatkan kenaikan harga sebesar 4,13 persen.
Kinerja INKP didukung oleh fundamental yang menarik dengan status sebagai emiten yang memegang rasio harga berbanding nilai buku atau price to book value (PBV) terendah, yakni 0,40 kali.
Di sisi lain, PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) juga mencatatkan penguatan yang solid dengan kenaikan 3,03 persen.
Namun, tidak semua saham berkapitalisasi besar mampu mempertahankan tren hijau di tengah fluktuasi pasar.
PT Bank Negara Indonesia (BBNI) tercatat sebagai salah satu saham dengan penurunan terdalam di kelompok LQ45, yakni sebesar 1,02 persen.
Sementara itu, beberapa emiten lainnya seperti PT Aneka Tambang (ANTM) dan PT Barito Pacific (BRPT) menunjukkan pergerakan yang cenderung stagnan atau terkoreksi tipis.
Analisis pasar menunjukkan bahwa rasio price earning ratio (PER) dan PBV masih menjadi instrumen krusial bagi investor dalam membedah valuasi saham saat ini.
Rasio PER digunakan untuk mengukur berapa kali lipat harga saham dibandingkan dengan laba bersih per saham yang dihasilkan perusahaan.
Sedangkan rasio PBV berfungsi membandingkan harga saham dengan nilai aset bersih perusahaan per saham untuk menentukan apakah harga pasar saat ini sudah tergolong murah atau mahal.
Data yang dihimpun dari Pusat Data Kontan dan RTI menunjukkan bahwa pergerakan harga saham di sepanjang sesi perdagangan 8 September 2026 didominasi oleh optimisme sektor energi dan material.
Meskipun investor asing melakukan net jual sebesar 650,1 juta saham, arus modal masuk secara nilai tetap menunjukkan kepercayaan pasar terhadap prospek emiten domestik.
Kombinasi antara lonjakan nilai transaksi dan volatilitas harga yang tajam mengindikasikan adanya akumulasi besar dari investor domestik pada saham-saham tertentu.
Para pelaku pasar kini tengah mencermati potensi pembagian dividen interim yang mulai mewarnai sentimen pergerakan harga saham di bursa.
Strategi seleksi saham dengan valuasi rendah dan fundamental kuat menjadi fokus utama para investor untuk menghadapi tren perdagangan ke depan.


