Jakarta, Gonesia.com — Sejumlah emiten besar di Bursa Efek Indonesia menunjukkan pola belanja modal atau capital expenditure (capex) yang sangat variatif sepanjang semester I 2026 di tengah ketidakpastian kondisi pasar global.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai bahwa perilaku korporasi dalam membelanjakan modal tahun ini tidak bisa disamaratakan sebagai mode ekspansi agresif secara menyeluruh.
“Namun, ada beberapa sektor yang memang membutuhkan capex cukup besar karena kebutuhan bisnisnya bersifat struktural. Telco menjadi salah satu contoh,” ujarnya, Selasa (8/9/2026).
Sektor telekomunikasi memang mencatatkan langkah paling ekspansif, terlihat dari PT XL Axiata Tbk (EXCL) yang justru menaikkan anggaran capex menjadi Rp 20 triliun dari rencana awal Rp 15 triliun.
Tambahan modal tersebut difokuskan untuk penguatan infrastruktur jaringan, perluasan layanan 5G, serta optimalisasi spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz.
Langkah serupa diambil oleh PT Indosat Tbk (ISAT) yang meningkatkan alokasi capex menjadi Rp 23 triliun guna mempercepat investasi teknologi 5G.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menyebutkan bahwa emiten lain seperti PT Astra International Tbk (ASII) tetap menjalankan investasi strategis meski dengan pendekatan yang lebih disiplin.
Ia mencatat bahwa hingga Juni 2026, Astra telah merealisasikan capex investasi sekitar Rp 12 triliun, terutama untuk akuisisi tambang emas Arafura Surya Alam.
“Jadi, alokasi modal Astra tetap besar, tetapi manajemen sekarang lebih selektif dan akan menyesuaikan investasi berikutnya dengan peluang serta return yang ditawarkan,” katanya.
Berbeda dengan sektor telekomunikasi, PT United Tractors Tbk (UNTR) justru memilih untuk mengerem belanja modal dengan memangkas anggaran dari US$ 880 juta menjadi US$ 650 juta.
Penyesuaian ini dipicu oleh perubahan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara yang menekan permintaan alat berat dan aktivitas pertambangan secara signifikan.
“Jadi, pemangkasan capex lebih merupakan langkah menjaga cash flow dan efisiensi dibandingkan indikasi tidak adanya peluang ekspansi,” tuturnya.
Sementara itu, emiten lain seperti PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) telah merealisasikan lebih dari 50% anggaran tahunannya, sedangkan PT Elnusa Tbk (ELSA) mencatat realisasi sebesar 35%.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menyoroti bahwa suku bunga Bank Indonesia yang masih tinggi serta volatilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor utama kehati-hatian emiten.
“Namun, sebagian lainnya masih berhati-hati karena mempertimbangkan permintaan, harga komoditas, dan kondisi pendanaan,” paparnya.
Meski demikian, secara makro, minat investasi di Indonesia dinilai masih cukup kuat dengan realisasi semester I mencapai Rp 1.010,6 triliun.
Prospek hingga 2027 diprediksi bakal didominasi oleh sektor telekomunikasi dan energy services seiring dengan rampungnya siklus investasi jaringan.
Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, mengingatkan bahwa kenaikan capex yang masif pada emiten telekomunikasi membawa risiko tersendiri terhadap arus kas bebas atau free cash flow.
“Fokus investor sebaiknya pada kemampuan capex 5G menghasilkan pertumbuhan ARPU dan EBITDA,” tegasnya.


