Jakarta, Gonesia.com – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang memicu penutupan sejumlah bandara di Indonesia pada Selasa, 8 September 2026, justru membawa lonjakan okupansi bagi industri perhotelan di sekitar kawasan bandara.
Wisatawan yang terpaksa menunda atau membatalkan perjalanan akibat gangguan jadwal penerbangan memilih untuk memperpanjang durasi menginap di hotel terdekat sebagai solusi akomodasi sementara.
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi B. Sukamdani menyebut tren peningkatan okupansi tersebut mulai teramati secara signifikan dalam kurun waktu dua hari terakhir.
“Jadi ada hotel yang memang akhirnya karena batal berangkat akhirnya mereka perpanjang. Ada beberapa hotel memang meningkat okupansinya, terutama yang dekat-dekat airport,” ujar Hariyadi kepada Katadata.co.id, Senin (7/9).
Kondisi ini dipicu oleh perilaku wisatawan yang terjebak atau stranded dan cenderung memprioritaskan kenyamanan dengan mencari penginapan yang paling dekat dengan akses bandara.
Ia mencontohkan fenomena di kawasan Tuban, Bali, yang berdekatan langsung dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, di mana tingkat hunian hotel bahkan mampu menyentuh angka maksimal.
“Yang saya tahu, di Tuban, dekat yang paling dekat sama airport, ya dia bisa 100%. Karena orang stranded kan, orang kalau stranded kan dia cari yang paling dekat airport,” lanjutnya.
Meski demikian, dampak erupsi tidak sepenuhnya menguntungkan karena sektor perhotelan juga mencatat adanya pembatalan reservasi dari wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ia menambahkan bahwa angka pembatalan tersebut masih sangat bervariasi tergantung pada lokasi dan segmen pasar hotel masing-masing.
Sebagai gambaran awal, ia menyebut tingkat pembatalan atau penundaan di Jakarta diperkirakan berada di kisaran 5% dari total tamu yang ada.
Di tengah situasi ini, ia mendorong pemerintah untuk segera menyusun protokol khusus yang komprehensif bagi wisatawan yang terdampak bencana alam.
Menurutnya, ketiadaan panduan penanganan yang jelas seringkali membuat wisatawan kesulitan saat harus memperpanjang masa tinggal secara mendadak.
Ia juga mengusulkan skema berbagi risiko atau sharing risk untuk meringankan beban kerugian yang harus ditanggung oleh pelaku industri pariwisata.
Pihaknya berharap pemerintah mempertimbangkan pemberian insentif berupa keringanan biaya operasional bandara, termasuk biaya ground handling, selama periode gangguan penerbangan berlangsung.
Ia menekankan pentingnya pembuatan standar operasional prosedur (SOP) penanganan bencana yang spesifik untuk sektor pariwisata mengingat posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire.
Selain SOP, ia menekankan perlunya penguatan sosialisasi mengenai jalur evakuasi dan titik kumpul yang aman bagi wisatawan maupun pelaku usaha lokal.
Langkah preventif ini dinilai krusial untuk memberikan rasa aman sekaligus menjaga citra pariwisata Indonesia saat menghadapi situasi darurat bencana alam.


