Jakarta, Gonesia.com – Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa angka pertumbuhan ekonomi semata tidak lagi menjadi indikator yang memadai dalam menghadapi dinamika tantangan global yang semakin kompleks saat ini.
Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Rudyard menyatakan bahwa fokus pembangunan harus bergeser pada penguatan kapasitas produktif nasional.
“Pertumbuhan saja tidak lagi cukup. Kita membutuhkan pertumbuhan yang membangun kapasitas produktif yang lebih kuat untuk masa depan,” kata Febrian dalam acara Bappenas – ADBI Joint Conference on Asian Countries Long Term Development Visions, Selasa (8/9).
Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, akselerasi inovasi, serta penguatan institusi yang tangguh sebagai fondasi utama.
Menurut dia, lingkungan pembangunan saat ini telah mengalami pergeseran drastis dibandingkan dekade-dekade sebelumnya.
Ketegangan geopolitik yang terjadi secara global kini telah membentuk kembali pola perdagangan internasional serta arus investasi lintas negara.
Di sisi lain, perkembangan teknologi yang sangat pesat turut mengubah mekanisme produksi barang, cara berkompetisi, hingga pola penciptaan lapangan kerja secara fundamental.
Ia menambahkan bahwa perubahan iklim serta transisi energi menghadirkan risiko sekaligus peluang baru bagi negara-negara di kawasan Asia.
“Teknologi mengubah cara kita memproduksi, bersaing, dan menciptakan lapangan kerja. Perubahan iklim dan transisi energi menghadirkan risiko-risiko baru, tetapi juga membawa peluang-peluang baru,” ujarnya.
Strategi pembangunan nasional kini diarahkan agar ekonomi Indonesia tidak hanya tumbuh, tetapi juga memiliki ketahanan dalam menghadapi guncangan masa depan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) menuju visi Indonesia Emas 2045.
Ia menegaskan bahwa visi besar tersebut harus segera diterjemahkan ke dalam kebijakan nyata agar target keluar dari jebakan pendapatan menengah dapat tercapai.
“Hal ini berarti meningkatkan produktivitas, mempercepat inovasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membangun institusi yang mampu menopang transformasi selama beberapa dekade,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Dean and CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) Bambang Brodjonegoro menyoroti perlunya transformasi sumber pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara Asia.
Ia menjelaskan bahwa model pertumbuhan tradisional yang mengandalkan akumulasi modal dan perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke manufaktur sudah tidak lagi memadai.
“Mempertahankan pertumbuhan semakin membutuhkan produktivitas yang lebih tinggi, peningkatan teknologi, inovasi, keterampilan yang lebih baik, serta institusi yang mampu merespons secara efektif terhadap perekonomian yang semakin kompleks,” ujar Bambang.
Ia menambahkan bahwa fragmentasi geopolitik serta kemunculan kecerdasan buatan (AI) menuntut penyesuaian strategi pembangunan yang radikal.
Menurutnya, perencanaan jangka panjang tidak sekadar memprediksi kondisi ekonomi 20 atau 30 tahun ke depan, melainkan membangun kapasitas adaptasi yang kuat.
“Perencanaan pembangunan jangka panjang bukanlah tentang memprediksi secara tepat seperti apa suatu perekonomian akan terlihat 20 atau 30 tahun dari sekarang,” katanya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa negara harus mampu beradaptasi terhadap perubahan pasar, demografi, dan teknologi secara berkelanjutan.


