JAKARTA, Gonesia.com — Ekspansi masif industri pusat data di Indonesia kini menjadi katalis utama yang memicu optimisme pertumbuhan saham di sektor energi baru dan terbarukan (EBT).
Lonjakan kebutuhan listrik yang stabil dan berkelanjutan dari fasilitas pusat data serta ekosistem kecerdasan buatan (AI) memaksa perusahaan energi untuk beralih ke sumber daya yang lebih andal.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menegaskan bahwa panas bumi merupakan solusi paling ideal untuk memenuhi kebutuhan listrik baseload yang memerlukan pasokan 24 jam tanpa interupsi.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyatakan bahwa kebutuhan pusat data dan AI factory memiliki karakter yang sangat spesifik yakni pasokan listrik harus stabil, tersedia 24 jam, sekaligus bersih.
Ia mengungkapkan bahwa karakter tersebut memang cukup sulit dipenuhi oleh sumber energi terbarukan lain yang masih bersifat intermiten atau tidak stabil.
Demi mempercepat adopsi energi panas bumi bagi pusat data, perusahaan menyoroti pentingnya penyempurnaan regulasi tarif agar lebih kompetitif, transparan, dan predictable.
Selain itu, ia menambahkan bahwa perlu adanya perluasan pemanfaatan insentif fiskal serta akses ke pendanaan hijau atau green financing.
Sinkronisasi antara Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), serta target Commercial Operation Date (COD) juga menjadi catatan krusial bagi pemerintah.
Ahmad memaparkan bahwa pihaknya kini telah memiliki peta jalan pengembangan kapasitas yang terukur untuk jangka panjang.
“Dari sisi kapasitas, PGEO menargetkan pertumbuhan bertahap menuju sekitar 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan sekitar 1,8 GW pada 2034, yang akan ditopang oleh portofolio sumber daya sekitar 3 GW. Pengembangan ini dioptimalisasi melalui pipeline proyek yang sudah jelas dan terukur,” kata Ahmad dalam keterbukaan informasi, Senin (7/8/2026).
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, memandang bahwa pusat data memang menjadi sentimen tambahan yang memperkuat visibilitas permintaan energi.
Menurutnya, kebutuhan listrik yang besar dari industri ini akan menjadi penopang pendapatan jangka panjang bagi emiten yang mampu menyediakan energi bersih secara konsisten.
Ia menyatakan bahwa “Data center menjadi katalis tambahan yang dapat memperbesar visibility permintaan,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (8/9/2026).
Meskipun demikian, ia mengingatkan investor bahwa hambatan masuk ke sektor ini tergolong tinggi karena membutuhkan investasi besar serta kepastian kontrak dengan offtaker.
Senada dengan hal tersebut, Analis Sucor Sekuritas Andreas Yordan Tarigan menilai PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) memiliki potensi besar untuk menangkap peluang ini.
Andreas merekomendasikan beli saham ADRO dengan target harga Rp 3.800 per saham karena kapasitas pengembangannya yang masih sangat luas.
Sementara itu, Elandry menyarankan investor untuk tetap jeli melihat realisasi nyata dari narasi pusat data tersebut.
Ia menekankan bahwa pertumbuhan harga saham yang berkelanjutan harus didukung oleh bukti konkret berupa kontrak pendapatan yang berulang atau recurring revenue.
“Sentimen data center bisa meningkatkan risk appetite terhadap saham EBT, tetapi rerating yang berkelanjutan tetap membutuhkan bukti bahwa permintaan tersebut berubah menjadi recurring revenue dan pertumbuhan laba,” jelas dia.


