IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Rupiah Menguat, Pasar Cermati Kebijakan The Fed Hari Ini

Tampilan layar monitor yang menunjukkan grafik pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS
Nilai tukar Rupiah menguat terhadap Dolar AS di tengah sentimen positif pasar global dan domestik.

JAKARTA, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (16/7/2026) di tengah sentimen positif global dan domestik.

Mata uang Garuda ditutup menguat 0,45% ke level Rp 17.986 per dolar AS di pasar spot.

Penguatan tersebut juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang naik 0,12% ke posisi Rp 18.041 per dolar AS.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyatakan, tren positif ini dipicu oleh pengakuan lembaga pemeringkat internasional S&P Global Ratings terhadap independensi Bank Indonesia.

Ia menambahkan, kepercayaan investor tersebut diperkuat oleh kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai berkelanjutan dalam jangka panjang.

Realisasi Capex ANJT Capai 73,5%, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya

Menurutnya, kondisi ini memberikan keleluasaan bagi otoritas moneter untuk terus memperkuat bauran kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran.

“BI masih bisa mengambil keputusan untuk menaikan tingkat suku bunga acuan (BI-Rate) menjadi 5,75%,” kata Ibrahim, Kamis (16/7/2026).

Di sisi lain, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan indeks dolar AS menjadi faktor krusial yang mengangkat mata uang domestik.

Lukman menjelaskan kepada Kontan bahwa data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar menjadi katalis utama pelemahan dolar.

Data menunjukkan PPI AS turun 0,3% secara bulanan pada Juni 2026, berbalik dari kenaikan 0,6% pada bulan sebelumnya.

BEI Perbarui Aturan Saham HSC, IHSG Diproyeksi Tembus 7.000

Secara tahunan, PPI AS melambat menjadi 5,5% atau di bawah perkiraan pasar yang sempat memproyeksikan angka 6,2%.

“Ini memicu menurunnya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed. Sentimen domestik juga masih cukup positif didukung oleh dipertahankannya kredit rating oleh S&P,” ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (16/7/2026).

Dia menuturkan, minimnya agenda data ekonomi penting pada Jumat (17/7/2026) akan membuat investor mengalihkan perhatian pada isu geopolitik.

Menurutnya, fokus pelaku pasar kini tertuju pada perkembangan konflik di Timur Tengah serta fluktuasi harga minyak mentah dunia.

Ia berpendapat bahwa rupiah berpotensi melanjutkan penguatan sepanjang tidak terjadi eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Tower Bersama TBIG Perluas Bisnis ke Layanan Network Access Point

Sementara itu, pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat diprediksi akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa para pembuat kebijakan tetap berkomitmen untuk mengembalikan inflasi ke target 2% bank sentral.

Warsh juga menyatakan bahwa The Fed siap menyesuaikan suku bunga jika tekanan harga di pasar domestik AS dinilai lebih persisten.

Terkait kekhawatiran dampak investasi di sektor kecerdasan buatan, ia menepis anggapan bahwa hal tersebut akan memicu lonjakan inflasi secara luas.

Menghadapi perdagangan besok, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 17.986 hingga Rp 18.030 per dolar AS.

Sebaliknya, Lukman memprediksi mata uang nasional berada di kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.050 per dolar AS.

Komentar