Boston, Fenesia.com – Timnas Maroko secara tegas menepis narasi mengenai misi balas dendam saat mereka bersiap menghadapi Prancis dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 di Stadion Boston pada 10 Juli 2026 mendatang.
Alih-alih terobsesi dengan memori kekalahan 0-2 pada semifinal Piala Dunia 2022, skuad berjuluk Atlas Lions tersebut lebih memilih untuk memusatkan seluruh konsentrasi mereka pada ambisi mengamankan satu tiket menuju babak semifinal.
Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, menekankan bahwa skuadnya saat ini memiliki fokus yang jauh lebih pragmatis demi melanjutkan tren positif mereka di turnamen ini.
Ia menyatakan, “Tidak ada niat balas dendam. Kami hanya ingin melanjutkan perjalanan kami. Lagipula, jika berbicara soal balas dendam, Paraguay juga bisa ingin membalas kami jika bertemu lagi karena kami pernah mengalahkan mereka dalam laga persahabatan,” ujarnya dikutip dari jpnn.com pada Senin (6/7/2026).
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan pergeseran paradigma dalam internal tim yang kini tidak lagi terjebak pada sentimen masa lalu.
Juru taktik berusia 49 tahun itu menambahkan bahwa timnya telah mengalami evolusi mentalitas yang signifikan di bawah kepemimpinannya.
Maroko kini menolak untuk sekadar dilabeli sebagai tim kejutan yang hanya beruntung dalam setiap pertandingan.
Ia menuturkan, “Kami bukan lagi sebuah kejutan. Sekarang ketika orang-orang berbicara tentang Maroko, kami adalah penantang utama dan itu menjadi kebanggaan besar bagi kami. Saya berharap pencapaian seperti ini terus berlanjut,” kata dia.
Optimisme tinggi yang menyelimuti kamp pelatihan Maroko bukanlah tanpa alasan yang kuat.
Mereka baru saja menunjukkan performa dominan saat menyingkirkan Kanada dengan skor meyakinkan 3-0 pada babak 16 besar lalu.
Dalam pertandingan tersebut, Azzedine Ounahi tampil sebagai pahlawan dengan mencetak dua gol, sementara Soufiane Rahimi melengkapi kemenangan melalui satu gol tambahan.
Catatan impresif Maroko berlanjut dengan status mereka yang hingga kini belum tersentuh kekalahan sepanjang turnamen.
Perjalanan mereka menuju delapan besar diwarnai dengan hasil imbang 1-1 melawan tim raksasa Brasil.
Selain itu, mereka berhasil menaklukkan Skotlandia dan Haiti di fase grup, serta melewati rintangan sulit melawan Belanda lewat drama adu penalti.
Meskipun secara statistik historis Maroko masih tertinggal dalam enam pertemuan terakhir kontra Prancis, mereka tetap menunjukkan ketenangan.
Data menunjukkan bahwa Les Bleus telah mengoleksi empat kemenangan, sementara Maroko baru mencatatkan satu kemenangan atas Prancis.
Namun, rekam jejak tersebut dianggap tidak relevan oleh tim pelatih Maroko di tengah kualitas permainan yang mereka tampilkan saat ini.
Alih-alih menengok ke belakang, mereka lebih memilih untuk membuktikan taji di atas lapangan hijau.
Fokus utama mereka saat ini adalah menjalankan instruksi taktis demi mengimbangi kekuatan lini serang Prancis.
Kesiapan fisik dan mental menjadi prioritas utama bagi seluruh pemain menjelang duel krusial di Boston tersebut.
Keberhasilan menembus perempat final telah menjadi standar baru bagi sepak bola Maroko di panggung dunia.
Kini, tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan momentum tersebut agar sejarah baru dapat tercipta di tanah Amerika.

