New York – Mayoritas indeks bursa Wall Street mengalami tekanan jual pada perdagangan Rabu (24/6) menyusul sentimen negatif dari sektor produsen cip memori. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap valuasi sektor teknologi yang dianggap sudah terlalu tinggi, menjelang rilis laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar.
Indeks Nasdaq memimpin pelemahan dengan terkoreksi 0,43% ke level 25.476,64, sementara indeks S&P 500 menyusul dengan penurunan 0,10% ke posisi 7.358,22. Berbeda arah, indeks Dow Jones Industrial Average justru mencatatkan penguatan sebesar 182,06 poin atau 0,35% ke level 51.848,90.
Chief Investment Officer RGA Investments, Rick Gardner, menilai bahwa koreksi yang terjadi pada saham-saham teknologi bukanlah sebuah anomali, melainkan penyesuaian pasar yang wajar. Menurutnya, reli panjang yang terjadi sebelumnya telah mendorong valuasi sektor ini ke level yang sangat tinggi, sehingga pasar kini mulai melakukan konsolidasi.
“Penurunan saham teknologi ini merupakan koreksi yang sehat karena banyak saham teknologi sudah mengalami kenaikan yang berlebihan,” ujar Gardner. Ia menambahkan bahwa investor saat ini tengah melakukan penyesuaian kembali terhadap ekspektasi laba emiten, mengingat tantangan besar yang dihadapi perusahaan dalam memenuhi target pasar menjelang musim laporan keuangan pada Juli mendatang.
Di sektor semikonduktor, saham Micron Technology menjadi sorotan utama setelah kembali ditutup turun 0,3% pasca sempat merosot tajam pada sesi sebelumnya. Sentimen serupa menular ke produsen lain seperti Sandisk yang terkoreksi 2,5%, serta VanEck Semiconductor ETF (SMH) yang juga berakhir di zona merah. Investor kini menanti laporan laba per saham (EPS) Micron yang diproyeksikan mencapai US$ 20,83 dengan pendapatan sebesar US$ 35,75 miliar menurut survei FactSet.
Chief Market Strategist Freedom Capital Markets, Jay Woods, memperingatkan bahwa volatilitas pada saham Micron kemungkinan masih akan berlanjut. Woods memprediksi harga saham tersebut berpotensi menguji level US$ 1.000 per saham seiring dengan respons pasar terhadap data keuangan yang akan dirilis. Ia mencatat bahwa level tersebut akan menjadi titik perhatian krusial bagi para pelaku pasar karena mendekati rata-rata pergerakan 20 hari.
Tekanan di bursa saham beriringan dengan pelemahan tajam di pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent anjlok 4,33% ke level US$ 73,74 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 3,92% menjadi US$ 70,34 per barel. Pelemahan harga minyak ini mencapai titik terendah sejak akhir Februari, yang kemudian berdampak pada penurunan imbal hasil (yield) Treasury AS tenor 10 tahun hingga di bawah level 4,5%.
Efek domino dari penurunan harga komoditas energi tersebut menekan saham-saham perusahaan migas besar. Exxon Mobil, Chevron, ConocoPhillips, dan SLB mencatat penurunan harga saham lebih dari 2%. Secara keseluruhan, ETF sektor energi State Street Energy Select Sector SPDR (XLE) ditutup melemah lebih dari 1% akibat sentimen negatif yang menyelimuti pasar energi global.

