Jakarta – Harga minyak dunia terkoreksi tajam setelah pasar menilai risiko gangguan pasokan energi dari Timur Tengah mulai mereda. Investor yang sebelumnya bertahan di posisi beli berbasis kekhawatiran geopolitik pun mulai melakukan aksi ambil untung.
Pada perdagangan terbaru, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) anjlok 3,1 persen dan ditutup di level 93,04 dolar AS per barel. Adapun Brent, patokan harga minyak global, turun 2,8 persen ke 95,03 dolar AS per barel.
Tekanan terhadap pasar muncul setelah beredar laporan bahwa Presiden AS Donald Trump tidak berniat melanjutkan perang skala penuh dengan Iran. Meski bentrokan sporadis masih terjadi, sikap itu dinilai menurunkan kekhawatiran soal potensi terganggunya suplai minyak dari kawasan Timur Tengah.
Kondisi pasar ikut dipengaruhi perkembangan politik regional. Israel dan Lebanon telah menyepakati gencatan senjata, langkah yang dianggap dapat memberi ruang bagi kemajuan dialog antara Amerika Serikat dan Iran.
Di Washington, Dewan Perwakilan Rakyat AS juga mengesahkan resolusi yang meminta Trump menarik pasukan Amerika atau terlebih dahulu memperoleh persetujuan Kongres bila ingin terus terlibat dalam konflik tersebut. Kebijakan ini memperkuat keyakinan pelaku pasar bahwa eskalasi tidak akan berkembang menjadi perang yang lebih luas.
Turunnya tensi geopolitik membuat premi risiko yang selama ini menopang harga minyak ikut menyusut. Akibatnya, penguatan yang sempat terbentuk di pasar minyak berbalik arah dan memicu koreksi dalam pada harga komoditas energi tersebut.

