Depok – Budaya overconsumption atau konsumsi berlebih berpengaruh terhadap krisis iklim yang semakin terasa. Hal itu disebabkan tren Fear of Missing Out (FOMO) yang membudaya melalui konten di sosial media.
Menurut Muhammad Imam, fenomena itu bisa ditanggulangi lewat hadirnya sebuah kebijakan yang tegas untuk memerangi krisis iklim. Karenanya, orang muda diminta aktif sebagai agen perubahan.
"Orang muda untuk aktif terlibat dalam proses kebijakan, bukan hanya sebagai pengamat, tetapi sebagai aktor perubahan," kata Imam saat seminar dan workshop bertema "From FOMO to Overconsumption: Ketika Tren Jadi Toxic Buat Bumi" yang diadakan di Kampus UI Depok, Minggu (26/4/2026).
Sementara dari kaca mata pemerintah, Adam Faza Gimnastiar menjelaskan, pergeseran pendekatan pengelolaan lingkungan dari end of pipe menuju pendekatan preventif berbasis Sustainable Consumption and Production (SCP). Dia mengamini, peran pemerintah sangat besar dan luas.
"Pemerintah berperan sebagai regulator, fasilitator, sekaligus katalisator dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat," tutur Adam pada acara senada.
Keberlanjutan tidak bisa dicapai secara parsial. Ariq Gilang Narendra menekankan, dunia usaha harus berjalan seiring dengan kebijakan publik dan kolaborasi lintas sektor. Penting menerapkan SCP di seluruh rantai nilai bisnis.
Neildeva Despendya menyoroti dampak perubahan iklim terhadap kehidupan orang muda, termasuk meningkatnya risiko eco-anxiety. Dia berkeyakinan, masih ada disparitas antara kebijakan pemerintah dan apa yang dibutuhkan orang muda untuk dijembatani.
"Masih terdapat kesenjangan antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata generasi muda-yang perlu dijembatani melalui partisipasi bermakna," dia menandasi.
Seminar diselenggarakan Yayasan Partisipasi Muda yang berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia pada 18 April 2026.
Kegiatan melibatkan 95 orang muda berusia 16-24 tahun dari Jabodetabek. Mereka terdiri dari siswa SMP, SMA, dan mahasiswa. Setelah seminar, peserta mengikuti Focus Group Discussion untuk menyusun policy brief. Setiap kelompok mensimulasikan proses negosiasi dan pengambilan keputusan antar aktor kebijakan, hingga menghasilkan rekomendasi konkret terkait konsumsi dan produksi berkelanjutan.
Hasil policy brief diharapkan menjadi kontribusi nyata orang muda dalam mendorong kebijakan lingkungan yang progresif. Melalui program ini, Yayasan Partisipasi Muda menegaskan komitmen melawan budaya overconsumption sekaligus membangun kesadaran bahwa konsumsi bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi tindakan politis yang berdampak pada masa depan lingkungan.
Yayasan Partisipasi Muda adalah organisasi nirlaba yang terbentuk sejak 2017 dan berkomitmen memberdayakan orang muda untuk berpartisipasi dalam proses demokrasi dan kebijakan publik melalui pendidikan politik, pelatihan kepemimpinan, dan ruang partisipasi inklusif. Tujuannya, memastikan suara orang muda ikut menentukan arah masa depan bangsa.

