Bandung – Bank Indonesia (BI) terus berupaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global. Berbagai langkah strategis ditempuh bank sentral untuk merespons dinamika yang ada.
Deputi Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, menjelaskan bahwa apresiasi dolar AS terjadi terhadap hampir seluruh mata uang di dunia. Hal ini disampaikan dalam diskusi media di Bandung, Jumat (24/4/2026).
Pada perdagangan Kamis (23/4/2026), rupiah sempat menyentuh level Rp 17.307 per dolar AS. Namun, pada penutupan Jumat sore, rupiah berhasil menguat 57 poin ke level Rp 17.229, dibandingkan penutupan Kamis di Rp 17.286.
Juli menjelaskan, penguatan dolar AS dipicu oleh derasnya arus modal masuk ke Amerika Serikat. Kondisi ini dipengaruhi oleh imbal hasil (yield) US Treasury yang cenderung meningkat akibat defisit fiskal AS yang semakin besar.
Defisit fiskal AS membengkak karena peningkatan belanja negara, terutama untuk keperluan perang. Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan biaya perang Iran telah melampaui US$ 20 miliar.
Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate pada level 4,75 persen.
Selain itu, BI secara aktif melakukan intervensi di pasar valas. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Bank Indonesia juga memperluas operasi moneter valas melalui transaksi *swap*.
“Itu diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah,” tegas Juli.

