Sleman – Di sebuah studio lukis sederhana di Widodomartani, suara gesekan kuas Suhardiyono di atas kanvas terdengar pelan, berulang, namun pasti, seolah mengikuti detak waktu yang semakin sempit. Di hadapannya, warna-warna hidup, namun di baliknya, ada kegelisahan yang tak pernah benar-benar hilang.
Seorang pria sepuh berumur 76 tahun itu berdiri tegak, tangannya tak lagi muda, namun tetap luwes menorehkan warna demi warna. Ia adalah Suhardiyono, atau yang akrab disapa Mbah Kibar.
Di usia senjanya, ketika banyak orang memilih beristirahat, Mbah Kibar justru berpacu dengan waktu. Setiap lukisan yang ia hasilkan bukan sekadar karya seni, melainkan ikhtiar untuk menyelamatkan tanah warisan keluarga yang kini terancam disita akibat utang ratusan juta rupiah.
"Yang berhutang adalah keluarga saya, tapi agunannya menggunakan tanah saya, tanah warisan dari Mbah Buyut saya, sebenarnya eman-eman (sayang) banget kalau disita Bank, mangkanya saya pertahankan," ujar Mbah Kibar, melalui pihak pendamping Atsir Mahatma Adam, Kamis (16/4/2026).
Sejak akhir 2024, hidup Mbah Kibar berubah drastis. Tanah yang ia jaga sepanjang hidupnya tiba-tiba menjadi jaminan utang keluarga yang tak pernah ia nikmati.
Di tengah kondisi itu, hadir sosok Atsir Mahatma Adam yang menjadi pendampingnya. Atsir tidak hanya membantu memperbaiki tempat tinggal Mbah Kibar yang tak layak huni, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar seperti makan dan tempat tinggalnya terpenuhi.
Namun waktu terus berjalan. Ancaman lelang semakin dekat. Total kewajiban kepada bank kini mencapai sekitar Rp 536 juta akibat akumulasi bunga. Di tengah tekanan itu, bank memberikan satu peluang terakhir untuk keringanan.
"Apabila Mbah Kibar bisa melunasi Rp 400 juta di bulan April ini, maka hutang yang aslinya Rp 536 juta akan dianggap lunas," jelas Atsir.
Batas waktu itu menjadi garis akhir perjuangan Mbah Kibar, sebuah perlombaan melawan waktu yang hanya bisa ia tempuh dengan satu cara, melalui goresan lukisannya.
Kecintaan Mbah Kibar pada seni lukis tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh di lingkungan yang sarat dengan denyut seni, tepatnya di Yogyakarta, kota yang sejak lama dikenal sebagai pusat kebudayaan dan seni rupa di Indonesia.
Sejak kecil, ia terbiasa menyaksikan langsung aktivitas para seniman. Salah satu momen yang membekas adalah ketika ia melihat demonstrasi melukis dari maestro besar Indonesia, Affandi. Dari situ, benih kecintaannya pada seni semakin tumbuh.
Tak hanya itu, ia juga kerap menghabiskan waktu di kawasan kota untuk melihat para pelukis poster film bekerja. Bahkan, ia rela menunggu hingga malam hari hanya untuk menyaksikan proses kreatif tersebut dari awal hingga selesai.
Bagi Mbah Kibar, melukis bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah bagian dari hidup yang tak terpisahkan sejak kecil.
"Melukis bagi saya adalah kehidupan, saya tidak memandang lukisan sebagai media mencari uang," tutur Mbah Kibar.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar di Maguwoharjo, ia telah jatuh cinta pada dunia seni. Bakatnya mulai terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar di Maguwoharjo.
Dukungan keluarga kala itu menjadi awal perjalanan panjangnya sebagai pelukis. Kini, di usia senja, melukis bukan lagi sekadar ekspresi, melainkan juga bentuk perjuangan.
"Harapan dan semangat, membuat saya akan senantiasa memberikan waktu dan upaya terbaik untuk karya lukis," katanya.
Setiap lukisan yang ia buat memakan waktu dua hingga tiga minggu. Nilainya pun tidak kecil. "Rp 50 juta ke atas," ujarnya.
Namun lebih dari nilai rupiah, setiap karya adalah upaya mempertahankan hidup dan martabat.
Bagi Mbah Kibar, tanah itu bukan sekadar properti. Ia adalah bagian dari identitas dan sejarah keluarga.
"Takut, sedih, kecewa," ungkapnya saat pertama kali mengetahui dirinya harus menanggung utang tersebut.
Meski tidak pernah menggunakan uang pinjaman, ia memilih tetap bertanggung jawab. Dalam pandangannya, tanah warisan leluhur tidak bisa dinilai dengan uang.
"Sangat penting, tanah warisan leluhur, dalam budaya Jawa ini adalah tanah yang tidak bisa diserahkan pada siapapun tanpa peduli harganya," katanya.
Pilihan itu bukan tanpa risiko. Namun bagi Mbah Kibar, menjaga warisan berarti menjaga kehormatan.
Di tengah perjuangan yang berat, Mbah Kibar juga harus menghadapi kenyataan pahit lainnya. Beberapa lukisannya pernah dibawa orang tanpa dibayar. Diketahui ada sekitar 21 lukisan miliknya raib dibawa orang tak bertanggung jawab.
"Lukisan Saya itu banyak dibawa kabur orang, sebenernya sudah jadi uang, namun dibawa kabur oleh teman saya," ujarnya.
Pengalaman itu meninggalkan luka mendalam, terlebih terjadi saat ia tengah menghadapi tekanan dari bank. "Sedih, marah, dan kecewa," katanya.
Namun ia tidak berhenti. Luka itu justru menjadi bahan bakar untuk terus berkarya.
Dalam kondisi yang serba sulit, Mbah Kibar memilih jalan yang tidak mudah. Ia menolak membuka donasi dan tidak ingin dianggap meminta-minta.
"Saya profesional saja, Saya masih mampu untuk melukis, Saya mau menyelesaikan masalah ini dengan lukisan Saya," tegasnya.
"Saya enggak buka sumbangan, juga bukan pengemis, Saya ini pelukis, kalau mau bantu Saya, cukup kenalkan saya dengan kolektor saja," lanjutnya.
Keputusan itu mencerminkan prinsip hidup yang ia pegang teguh, bertahan dengan martabat. "Martabat dan idealisme sebagai maestro tangguh," ujarnya menjadi alasan ia tetap bertahan sampai saat ini.
Perjalanan ini tentu tidak mudah. Atsir Mahatma Adam sebagai pihak pendamping mengungkapkan di usia Mbah Kibar yang tak lagi muda, tekanan fisik dan mental menjadi tantangan besar dirinya.
"Tentunya tuntutan bank untuk segera menutup hutang, hal ini sangat memberatkan kondisi fisik dan psikis Mbah Kibar yang sudah berumur tua," ujarnya.
Mbah Kibar pun mengakui pernah merasa lelah dan putus asa. "Pernah, lelah pasti dialami, putus asa pasti dihadapi, namun kami sebagai pihak pendamping dan Mbah Kibar belum pernah menyerah," katanya.
Semangat itu terus dijaga didorong oleh keyakinan bahwa selama masih mampu melukis, harapan belum sepenuhnya hilang.
Di tengah perjuangan itu, Atsir dan tim pendamping memilih berdiri di sisi Mbah Kibar tanpa mengambil keuntungan.
"Pak Kibar sudah bertekad untuk menyelesaikan masalah ini melalui karya lukisnya, beliau orang yang terhormat, beliau tidak membuka donasi, tidak meminta sumbangan, beliau hanya ingin menyelesaikan masalah tanah leluhurnya ini melalui goresan lukisannya," ujar Atsir.
"Kami selaku pihak pendamping juga tidak akan mengambil keuntungan sepeserpun dari penjualan karya-karya Pak Kibar," lanjutnya.
"Tugas Saya sebagai pendamping, murni untuk menjembatani untuk mempertemukan calon pembeli yang serius dan berminat," katanya.
Meski ada tawaran yang tidak serius, harapan tetap ada. "Ada yang ngechat saya, nawar lukisan Soekarno itu dibayar Rp 300 ribu, itu namanya bukan serius, itu guyon," ujarnya.
"Yang serius akan kami pertemukan dengan Pak Kibar, apabila ada transaksi kami akan mendatangkan pihak bank supaya proses transaksi berjalan transparan," tambahnya.
Melalui akun media sosial, Mbah Kibar menawarkan deretan lukisan tokoh-tokoh besar seperti Soekarno, Pangeran Diponegoro, hingga Gibran Rakabuming Raka.
Hingga saat ini, dukungan mulai mengalir. Beberapa tawaran datang dari kolektor hingga ajudan tokoh nasional. Tim pendamping pun tengah mempertimbangkan opsi lelang untuk mencapai angka pelunasan.
Di antara banyak karya yang ia hasilkan, ada satu lukisan yang paling dekat di hatinya. "Lukisan Bunda Theresa," ujar Mbah Kibar singkat.
Sementara itu, sosok Bung Karno memiliki makna tersendiri baginya. "Saya pernah mengalami masa kepemimpinan Soekarno, bagi Saya Soekarno bukan hanya sosok presiden pertama RI, tapi belaiu juga sosok pemenang dan penenang hati bagi Rakyat Indonesia di masa itu," pungkasnya.

