Jakarta Utara – Pekerjaan PPSU sering dianggap sekadar petugas berseragam oranye yang membersihkan jalan atau mengangkut sampah. Namun, di balik itu, terdapat kerja fisik berat dan konsistensi yang tidak sederhana.
Hari Muklisin dimulai saat sebagian besar warga masih terlelap. Rutinitasnya berjalan disiplin dari pagi hingga sore.
Ketika pagi masih basah oleh sisa embun, derap langkahnya sebagai petugas PPSU mulai menyusuri jalanan permukiman di Jakarta Utara.
"Aktivitas saya dalam satu hari dimulai absen jam 5 pagi, start kerja jam 6 pagi membersihkan zona yang sudah di bagikan, jarak tempuhnya 1 Kilometer per satu orang, hingga diselesaikan jam 3 sore," ujarnya.
Setiap hari, ia menyusuri jalan, sapu lidi di tangan, karung di bahu, dirinya bekerja dalam diam, membersihkan selokan, mengangkat sampah, merapikan lingkungan yang sering luput dari perhatian. Pekerjaan fisik yang melelahkan itu dilakukan tanpa banyak sorotan.
Namun di balik kelelahan, ada kepuasan tersendiri ketika hasil kerja bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Senang, bisa membantu warga untuk membersihkan lingkungan," katanya.
Antara Hasil Kerja dan Laporan
Di tengah sistem kerja yang semakin berbasis laporan, Muklisin menegaskan bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan.
"Hasil kerja dan laporan kerja karena kedua hal tersebut merupakan tanggung jawab dari pekerjaan saya," ujarnya.
Namun baginya, laporan bukan sekadar formalitas. Ia memastikan bahwa setiap dokumentasi yang dibuat benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan.
Sikap ini menjadi penting di tengah maraknya praktik manipulasi dokumentasi, termasuk dengan bantuan teknologi seperti AI.
"Kecewa, sangat mencoreng, karena pekerjaan PPSU itu tidak semuanya buruk," katanya saat menanggapi kasus manipulasi tersebut.
Menurutnya, praktik seperti itu justru merusak kepercayaan terhadap profesi PPSU secara keseluruhan.
Kejujuran di Tengah Ketidakpercayaan
Menjaga kejujuran dalam bekerja bukan hal yang mudah, terutama ketika sistem menuntut kecepatan dan kelengkapan laporan. Muklisin mengaku tantangan terbesar bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga menghadapi persepsi publik.
"Tantangan terbesar nya, sebagian orang-orang tidak percaya apa yang saya kerjakan di lapangan," ujarnya.
Meski demikian, ia tetap memilih untuk berpegang pada prinsip. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk tanggung jawab moral yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun.
"Bertanggungjawab dalam bekerja," katanya singkat.
Bagi Muklisin, tanggung jawab tidak hanya kepada atasan, tetapi juga kepada masyarakat.
"Kepada semuanya, laporan, atasan dan warga," ujarnya.

