Jakarta – Said menegaskan PDIP mengadopsi nilai-nilai Islam Wasathiyah yang menjadi ciri khas NU, yakni Islam yang moderat, adil, dan toleran.
"Islam Wasathiyah ini menjadi pedoman langkah langkah politik PDI Perjuangan, kita menolak Islam dihadirkan secara menakutkan, terutama di hadapan terhadap kelompok minoritas, padahal mereka saudara sebangsa sendiri. Keislaman kita harus memayungi, memberi rahmat, dan kedamaian," kata Said.
Said pun menyambut positif keterlibatan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama yang menjadikan PDI Perjuangan sebagai rumah politik. Ia mencontohkan sejumlah figur, seperti Gus Wahab di Jawa Timur hingga Abdullah Azwar Anas di tingkat pusat. Said berharap lebih banyak kiai, gus, bu nyai, dan ning ikut ber-ijtihad politik bersama PDIP, sekaligus membawa nilai dakwah dalam kehidupan berbangsa.
"Dengan kebersamaan ini, kami berharap ada perbaikan, termasuk dalam kehidupan beribadah. Berdakwah dan membersamai PDI Perjuangan, insya Allah ganjarannya berlipat," ujar Said.
Ia juga mengingatkan bahwa tradisi halal bihalal yang digelar saat ini memiliki akar sejarah kuat, digagas oleh pendiri NU, KH Wahab Hasbullah, bersama Soekarno sebagai upaya merajut persatuan bangsa.

