Jakarta – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) siswa SMA menunjukkan nilai matematika masih menjadi tantangan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengungkapkan rata-rata nilai matematika siswa hanya berkisar 30 dari skor maksimal 100.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen, Rahmawati, menduga rendahnya nilai ini disebabkan soal yang menekankan penalaran dan bersifat naratif.
“Rendahnya nilai yang diperoleh siswa kemungkinan disebabkan soal yang diujikan lebih menekankan pada aspek penalaran dan bersifat naratif,” ujarnya dalam Taklimat Media TKA 2025 di Jakarta, Senin (22/12/2025).
TKA SMA/SMK tahun 2025 telah dilaksanakan dalam beberapa gelombang pada awal November.
Rahmawati mencontohkan soal materi data dan peluang yang divariasikan. Siswa diharapkan mampu mengaitkan data dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
“Soalnya seperti itu. Jadi anak-anak mungkin tidak terbiasa mengaitkan data yang tertera di tabel dengan syarat dan ketentuan yang berlaku secara pointer naratif,” jelasnya.
Ia menambahkan, banyak siswa yang luput dari petunjuk (clue) atau ketentuan yang disisipkan dalam soal.
Menanggapi hasil ini, Kemendikdasmen akan menjadikan data TKA sebagai refleksi dan referensi bagi guru.
Rahmawati berharap forum guru dapat membedah cara belajar di sekolah masing-masing dan saling berbagi pengalaman.
“Harapannya forum guru membedah sekolahnya masing-masing, bandingkan dengan wilayah yang masih kurang di materi yang mana. Kalau ada sekolah lain yang menguasai di materi itu, nanti bisa sharing,” katanya.
Kementerian akan merilis informasi detail tentang tindak lanjut yang akan dilakukan di berbagai tingkatan, mulai dari forum guru hingga dinas pendidikan provinsi.
Tujuannya, menjadikan hasil TKA ini sebagai titik awal untuk perbaikan di tahun berikutnya.

