NEW YORK, Gonesia.com — Harga emas dunia mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026, akibat lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menekan minat beli investor terhadap logam mulia.
Data pasar menunjukkan harga emas spot terkoreksi sebesar 1,3 persen ke posisi US$ 4.021,18 per ons troi hingga pukul 10.20 GMT.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turut tertekan dengan penurunan sebesar 1,4 persen ke level US$ 4.021,50 per ons troi.
Analis pasar menilai penguatan mata uang dolar AS menjadi katalis utama yang memicu aksi jual di sektor komoditas logam berharga tersebut.
Dolar AS saat ini bertahan di dekat level tertinggi dalam empat pekan terakhir.
Kondisi tersebut secara otomatis menjadikan emas jauh lebih mahal bagi para investor yang memegang mata uang selain dolar AS.
Pelaku pasar kini tengah berada dalam fase menahan diri menjelang pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve yang akan dirilis pada Rabu, 30 Juli 2026.
Merujuk pada data CME FedWatch Tool, sekitar 34 persen pelaku pasar memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini.
Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan September bahkan melonjak hingga mencapai kisaran 81 persen.
Kepala Analisis Pasar StoneX, Rhona O’Connell, menyatakan harga emas masih bergerak dalam kisaran sempit dengan level penopang di sekitar US$ 4.000 per ons troi sejak akhir Juni.
“Hal itu menunjukkan pada titik tertentu akan terjadi pergerakan yang menembus kisaran tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan, aktivitas di pasar fisik emas saat ini terpantau masih relatif sepi.
Para investor profesional kini lebih memfokuskan perhatian pada korelasi antara fluktuasi harga minyak mentah, arah kebijakan suku bunga, dan tren penguatan dolar AS.
Sentimen geopolitik terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran turut menjadi variabel yang diperhitungkan oleh pelaku pasar global.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran berlangsung positif dan membuka peluang tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Namun, ia mengingatkan bahwa serangan dapat kembali dilakukan apabila negosiasi gagal membuahkan hasil.
Harapan akan penyelesaian konflik tersebut berdampak pada penurunan harga minyak yang kini bergerak di dekat level terendah dalam satu pekan terakhir.
Pergerakan harga energi menjadi krusial karena kenaikan biaya produksi berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi di masa depan.
Inflasi yang tinggi sering kali menjadi pertimbangan utama The Fed untuk mempertahankan kebijakan suku bunga pada level yang tinggi.
Meskipun emas secara historis dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga tetap menjadi beban berat bagi logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi lain, Trump tetap konsisten memberikan tekanan kepada The Fed agar segera memangkas suku bunga acuan.
Menurutnya, AS seharusnya memiliki tingkat suku bunga terendah di dunia guna mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.
Dampak pelemahan di pasar emas juga merembet ke sektor logam mulia lainnya pada perdagangan hari ini.
Harga perak spot tercatat turun 2 persen menjadi US$ 57,21 per ons troi.
Logam platinum juga terkoreksi 1,6 persen ke angka US$ 1.595,80 per ons troi.
Sementara itu, harga paladium merosot paling dalam sebesar 3,2 persen ke level US$ 1.250,25 per ons troi.


