Tangerang, Gonesia.com – Transformasi digital kini menjadi kunci utama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam meningkatkan efisiensi operasional dan mendongkrak volume penjualan secara signifikan.
Warung Bude Pecel Khas Wonogiri menjadi salah satu contoh sukses pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mengoptimalkan performa bisnis kuliner keluarga.
Pengelola usaha, Moris Suhendi, menyatakan bahwa adopsi teknologi AI membantu dirinya dalam mengambil keputusan strategis berbasis data yang akurat.
Strategi paling krusial yang ia terapkan adalah peluncuran menu bundling bertajuk Paket Duo Hemat hasil rekomendasi Asisten AI GrabMerchant.
Data mencatat, sejak diperkenalkan pada April 2026, penjualan paket tersebut melonjak hingga 48,42% dibandingkan dengan penjualan menu satuan.
“Asisten AI ini benar-benar saya gunakan sebagai asisten, sesuai dengan namanya. Kalau ingin memperpanjang jam buka, mengubah jadwal khusus untuk hari itu, atau mematikan menu yang sudah habis, prosesnya jadi lebih mudah. Dulu harus mengatur semuanya secara manual. Sekarang ada shortcut untuk membantu manajemen aplikasi,” ujar Moris.
Penerapan teknologi ini merupakan bagian dari kampanye Grab Indonesia bertajuk “Temukan Jawaban untuk Apa Pun” yang resmi diluncurkan pada 12 Juni 2026.
Inisiatif tersebut bertujuan untuk mendemokratisasi akses teknologi agar lebih mudah digunakan oleh para pelaku UMKM di seluruh pelosok negeri.
Menurut laporan pihak Grab, dalam kurun waktu kurang dari lima bulan, mitra merchant telah berinteraksi dengan Asisten AI lebih dari satu juta kali dengan tingkat kepuasan pengguna mencapai 96,1%.
Perjalanan bisnis Warung Bude Pecel Khas Wonogiri sendiri memiliki sejarah panjang yang dirintis sejak tahun 1998 di Tangerang.
Awalnya, usaha ini dijalankan dengan model berjualan keliling menggunakan resep tradisional khas Wonogiri sebelum akhirnya beralih ke platform digital pada tahun 2021.
Moris mengungkapkan bahwa kehadiran teknologi membantu dirinya memahami analisis bisnis yang sebelumnya dianggap rumit dan sulit dijangkau.
Ia menambahkan, ketika harga bahan baku naik atau ingin membuat program promosi, ia menggunakan AI untuk mengecek kembali apakah harga jual yang diterapkan masih aman sehingga lebih percaya diri dalam mengambil keputusan.
“Fitur ini seperti kamus untuk GrabMerchant. Informasi yang sebelumnya sulit saya pahami sekarang bisa saya tanyakan dari A sampai Z. Penjelasannya lebih mudah dimengerti, sehingga saya bisa memahami analisis usaha saya,” ujarnya.
Data internal perusahaan menunjukkan bahwa sepanjang periode awal tahun hingga Mei 2026, sebanyak 59,2% gerai merchant Grab di Indonesia telah aktif menggunakan fitur berbasis AI tersebut.
Country Marketing and Communications Head Grab Indonesia, Melinda Savitri, menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen memastikan teknologi AI dapat dimanfaatkan secara inklusif oleh berbagai skala usaha, termasuk UMKM keluarga.
“Kami ingin memastikan teknologi AI dapat dimanfaatkan secara inklusif oleh berbagai skala usaha, termasuk UMKM keluarga. Karena itu, Asisten AI GrabMerchant dirancang agar mudah digunakan dan relevan dengan kebutuhan merchant, sehingga dapat mendukung mereka dalam mengelola dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” ujar Melinda.


