Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa perusahaan bahan bakar minyak (BBM) swasta telah memperoleh kuota impor yang meningkat. Jumlah kuota tersebut setara dengan tahun 2024 ditambah 10 persen, di tengah isu kelangkaan stok di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Shell dan BP-AKR. Pernyataan ini disampaikan Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 27 Agustus 2025.
Kekosongan pasokan BBM jenis Super dan V-Power di SPBU Shell di wilayah Jakarta telah terpantau sejak 25 Agustus 2025. Situasi serupa juga pernah terjadi pada awal tahun ini, menunjukkan adanya kendala berulang dalam ketersediaan bahan bakar di sektor swasta.
Menyikapi kondisi ini, Bahlil menegaskan bahwa hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Oleh karena itu, pemerintah akan terus memperkuat posisi Pertamina sebagai pilar utama dalam penyediaan energi nasional.
Sebelumnya, President Director and Managing Director Mobility Shell Indonesia, Ingrid Siburian, mengakui adanya kendala dalam pengadaan dan penyaluran produk BBM. Dalam keterangan resmi pada 31 Januari 2025, Ingrid menyatakan bahwa Shell Indonesia senantiasa berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan ketersediaan produk secepatnya.
Meski demikian, Ingrid juga memastikan bahwa SPBU Shell tetap beroperasi untuk melayani pelanggan dengan produk dan layanan lain yang tersedia, termasuk Shell Select dan fasilitas bengkel. Pihaknya menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi akibat kekosongan stok BBM.


