JAKARTA – S&P Global Ratings memberikan peringatan terkait rencana pemerintah Indonesia untuk mengendalikan ekspor komoditas melalui badan ekspor terpusat. Lembaga pemeringkat internasional ini menilai kebijakan tersebut berisiko menekan volume ekspor, mengurangi penerimaan negara, hingga berdampak negatif terhadap neraca pembayaran Indonesia.
S&P menyebut langkah sentralisasi ekspor menciptakan ketidakpastian baru bagi prospek ekonomi nasional serta arus devisa. Selain itu, kebijakan ini dikhawatirkan dapat mengganggu kelancaran rantai perdagangan komoditas global.
“Faktor-faktor ini menciptakan ketidakpastian yang lebih besar terhadap peringkat S&P untuk Indonesia,” tulis lembaga tersebut dalam pernyataannya.
Sentimen negatif ini muncul bersamaan dengan tekanan berat di pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus merosot hingga kembali ke level 6.000-an, posisi yang terakhir kali terlihat saat pandemi Covid-19 pada 2021 lalu.
Tercatat secara *year to date* (ytd), IHSG telah melemah 28,94%. Sementara dalam sebulan terakhir, indeks terkoreksi 19,09%. Padahal, pada awal 2026, IHSG sempat mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.134. Akibat penurunan ini, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menyusut drastis dari Rp16.590 triliun menjadi Rp10.576 triliun.
Menanggapi gejolak pasar, pemerintah menegaskan bahwa pembentukan badan ekspor di bawah Danantara Sumberdaya Indonesia bertujuan memperkuat pengawasan sumber daya alam (SDA). Presiden Prabowo Subianto menyatakan langkah ini krusial untuk memberantas praktik *underinvoicing*, *transfer pricing*, serta pelarian devisa hasil ekspor.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini bahwa tekanan pasar saat ini hanya bersifat sementara karena investor belum memahami manfaat kebijakan tersebut. Menurutnya, pasar cenderung bereaksi negatif terhadap ketidakpastian.
“Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya. Pasar kalau ada ketidakpastian pasti takut, jadi menjual saham dahulu,” jelas Purbaya.
Ia justru optimistis bahwa setelah diimplementasikan, badan ekspor ini akan meningkatkan profitabilitas emiten di sektor SDA. Hal ini nantinya diprediksi dapat mendongkrak valuasi perusahaan di bursa secara signifikan.
Senada dengan pemerintah, *Chief Investment Officer* Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyatakan pihaknya optimistis terhadap hasil kebijakan ini ke depan. “Insya Allah hasilnya pasti baik, kami tetap melihat kondisi pasar dan optimis segera membaik,” ujar Pandu.
Adapun pada penutupan perdagangan Kamis (21/5), IHSG ditutup melemah 3,54% ke level 6.094 dengan total nilai transaksi sebesar Rp18,28 triliun.

