JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam sebesar 2,71 persen ke level 6.147 pada sesi pertama perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Pelemahan ini terjadi secara drastis setelah indeks sempat dibuka menguat 0,76 persen ke posisi 6.366,4 di awal perdagangan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, seluruh sektor indeks berakhir di zona merah. Tekanan jual paling signifikan menimpa sektor barang baku (IDXBASIC) yang anjlok 6,34 persen, disusul sektor energi (IDXENERGY) sebesar 4,99 persen. Selain itu, sektor transportasi dan logistik (IDXTRANS) turun 4,70 persen serta sektor perindustrian (IDXINDUST) melemah 4 persen.
Tren pelemahan IHSG sebenarnya telah terlihat sejak perdagangan Rabu (20/5/2026), saat indeks terperosok ke level 6.318,5. Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebutkan bahwa pasar bereaksi negatif terhadap pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027.
Dalam pidatonya, Presiden menegaskan rencana pemerintah untuk mewajibkan ekspor komoditas sumber daya alam melalui perusahaan BUMN sebagai pengekspor tunggal. Selain itu, pemerintah menginstruksikan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk menekan suku bunga kredit bagi masyarakat kecil.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank Indonesia. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Keputusan tersebut melampaui ekspektasi konsensus pasar yang memprediksi kenaikan di angka 5 persen. Meski memicu koreksi di pasar saham, kenaikan suku bunga ini berdampak positif terhadap nilai tukar rupiah yang menguat 0,29 persen ke posisi Rp17.654 per dolar AS.

