JAKARTA, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah diprediksi mempertahankan momentum penguatan pada perdagangan pekan depan di tengah tekanan yang terus membayangi mata uang dolar Amerika Serikat.
Data pasar spot pada Jumat (21/8/2026) menunjukkan posisi rupiah berada di level Rp 17.694 per dolar AS atau mencatatkan apresiasi sebesar 0,3 persen secara harian.
Kinerja positif tersebut juga terlihat dalam catatan sepekan terakhir dengan akumulasi penguatan mencapai 0,75 persen dari posisi Jumat pekan sebelumnya di angka Rp 17.827 per dolar AS.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) turut mencerminkan tren serupa dengan penguatan harian sebesar 0,42 persen ke level Rp 17.705 per dolar AS.
Secara mingguan, kurs Jisdor telah berhasil menguat 0,73 persen dibandingkan posisi pada Jumat pekan lalu yang berada di angka Rp 17.836 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa penguatan mata uang Garuda saat ini didorong utama oleh pelemahan indeks dolar AS yang cukup signifikan.
Indeks dolar AS atau DXY kini bertengger di level 98,6 yang mencerminkan penurunan sebesar 2,4 persen dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
“Penguatan rupiah sepekan umumnya didukung oleh pelemahan dolar AS yang tajam oleh rencana buyback obligasi jangka panjang oleh pemerintah AS,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).
Ia menambahkan bahwa selain faktor eksternal, respons positif pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulan Agustus turut menjadi katalis pendukung bagi rupiah.
Menurutnya, kebijakan yang diambil Bank Indonesia dalam rapat tersebut dinilai cukup hawkish oleh para pelaku pasar sehingga memberikan sentimen positif tambahan.
Faktor eksternal lainnya yang memengaruhi pergerakan kurs adalah penurunan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.
Penurunan tersebut secara langsung menekan indeks dolar AS ke titik terendah dalam periode lebih dari tiga bulan terakhir.
“Penurunan imbal hasil US Treasury 10Y telah menekan indeks dolar AS ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan, ini tentunya sangat mendukung rupiah dan mata uang lainnya,” jelasnya.
Menatap perdagangan pekan depan, ia memproyeksikan pergerakan rupiah akan berada dalam rentang antara Rp 17.550 hingga Rp 17.850 per dolar AS.
Karena minimnya agenda data ekonomi domestik, perhatian pelaku pasar akan sepenuhnya tertuju pada dinamika ekonomi dari Amerika Serikat.
Investor akan memantau ketat rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures serta revisi kedua pertumbuhan Produk Domestik Bruto AS.
Simposium ekonomi tahunan Jackson Hole juga menjadi agenda krusial yang dinanti pasar karena berpotensi mengubah ekspektasi kebijakan moneter The Federal Reserve.
Seluruh data tersebut diyakini akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga bank sentral AS yang secara tidak langsung akan mendikte pergerakan nilai tukar rupiah ke depan.


