Berita

Riset Bongkar Mitos Ekspansi, UMKM Kuliner Ungkap Jebakan Biaya

bongkar-mitos-bisnis-kuliner,-riset-sebut-banyak-umkm-terjebak-ekspansi-semu
Bongkar Mitos Bisnis Kuliner, Riset Sebut Banyak UMKM Terjebak Ekspansi Semu

Bandung – Banyak pelaku UMKM pemula masih salah kaprah dalam memaknai pertumbuhan bisnis. Alih-alih membangun fondasi usaha yang sehat, sebagian justru terpaku pada ambisi membuka cabang sebanyak mungkin dan mengabaikan efisiensi biaya operasional.

Gambaran itu muncul dalam riset “UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level” yang dirilis Polytron bersama Populix di Bandung, Jawa Barat. Kajian berbasis data lapangan tersebut menyoroti kondisi ekosistem UMKM sekaligus menawarkan ulang ukuran keberhasilan yang lebih realistis bagi pelaku usaha agar benar-benar naik kelas.

Hasil riset menunjukkan, sektor UMKM kuliner kini banyak digerakkan generasi muda. Gen Z dan milenial mendominasi dengan porsi 65 persen. Dari jumlah itu, 80 persen merupakan perintis yang membangun usaha secara mandiri, dengan dorongan utama untuk berdikari sebesar 57 persen dan melihat peluang pasar 46 persen.

Namun, semangat itu belum selalu diiringi ketahanan finansial yang kuat. Sebagian besar pelaku usaha masih bertumpu pada tabungan pribadi, yakni 63 persen, sementara 46 persen lainnya memutar modal secara bertahap dari keuntungan.

Keterbatasan modal tersebut juga dipengaruhi literasi keuangan yang belum memadai. Meski 50 persen responden mengaku kesulitan memperoleh pinjaman bank, persoalannya kerap bukan semata pada pihak perbankan. Sebanyak 26 persen pelaku UMKM tidak memahami cara mengajukan kredit, sedangkan 19 persen lainnya belum memiliki akses ke lembaga keuangan formal.

BRI Hadirkan Jazz Gunung 2026, Padu Musik, Budaya, Alam

Di sisi lain, bank membutuhkan dokumen tertulis seperti laporan keuangan dan arus kas yang rapi untuk menilai kelayakan pinjaman. Tanpa itu, akses pembiayaan menjadi semakin berat.

Riset ini juga membongkar anggapan bahwa bisnis kuliner dianggap sukses jika memiliki banyak cabang. Dalam praktiknya, ekspansi yang dilakukan terlalu cepat justru bisa menjadi bumerang bila tidak ditopang sistem kerja dan standard operating procedure atau SOP yang kuat.

Sebanyak 25 persen pelaku usaha mengaku terganggu operasionalnya karena belum memiliki SOP. Bahkan, 48 persen UMKM masih mencatat transaksi secara manual. Akibatnya, keputusan bisnis lebih sering bergantung pada intuisi ketimbang data, sehingga ekspansi sehat menjadi sulit dilakukan.

Persoalan lain datang dari sisi sumber daya manusia. Sebanyak 67 persen UMKM skala mikro hanya mengandalkan satu sampai dua karyawan yang harus menjalankan banyak peran sekaligus. Dampaknya, kecepatan layanan bisa turun hingga 55 persen saat jam ramai.

Tekanan biaya juga mendorong sebagian pelaku usaha menaikkan harga jual demi mengejar margin cepat. Padahal, strategi itu berisiko karena 20 persen konsumen di Indonesia tergolong sangat sensitif terhadap harga.

Wamenaker Sidak, Mediasi PHK 133 Pekerja PT Amos Indah

Masalah tidak berhenti di sana. Omzet besar tidak otomatis membuat bisnis aman jika pelaku usaha mengabaikan biaya tersembunyi. Kelalaian operasional kerap memicu kerusakan alat produksi lebih cepat, atau premature asset death, dalam waktu kurang dari satu tahun.

Situasi itu membuat pelaku usaha mengalami kerugian ganda. Mereka harus menanggung biaya perbaikan yang mahal, sekaligus menghadapi terhentinya produksi yang ikut mengganggu arus kas.

Pakar Sistem Operasional Industri dan Digital Marketing dari Telkom University, Dr. Ir. Yati Rohayati, M.T., menilai UMKM perlu menyeimbangkan agresivitas pemasaran dengan kekuatan sistem di belakang layar. Menurut dia, kecepatan di era digital harus didukung alur kerja yang terdigitalisasi dan tertata.

“UMKM kuliner harus mulai merancang SOP dan mendigitalisasi alur kerja dari dapur hingga ke meja konsumen. Tujuannya agar bisnis berjalan efisien, minim kekeliruan, dan mudah dipantau,” kata Yati dalam workshop yang dihadiri ratusan pelaku UMKM di Bandung, Jumat, 19 Juni 2026.

Yati, yang juga Kepala Laboratorium Riset Digital Marketing & Intelligence, menjelaskan pentingnya strategi omnichannel. Konsep ini menekankan integrasi berbagai kanal penjualan, mulai dari gerai fisik, WhatsApp, Instagram, hingga layanan ojek online, dengan memanfaatkan data pelanggan agar pembelian berulang bisa terus didorong.

Kia Hadirkan Kenyamanan Keluarga Lewat All-New Carens

Pendapat itu dibenarkan Aprilia Melisa, pemilik Terve Chocolate dan Let’s Go Gelato. Ia menilai keberlanjutan bisnis kuliner sangat bergantung pada kemampuan menjaga efisiensi biaya operasional, termasuk melalui penggunaan teknologi seperti sistem kasir terintegrasi atau Point of Sales/POS dan customer relationship management atau CRM untuk menguatkan loyalitas pelanggan.

Pada akhirnya, riset tersebut menempatkan “naik level” bagi UMKM ke dalam empat pilar utama: kematangan konsep usaha, perubahan dari sistem manual ke digital, investasi pada aset jangka panjang yang tepat, serta ekspansi atau diversifikasi yang terukur tanpa mengganggu stabilitas operasional yang sudah berjalan.

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

04

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

05

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

06

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

07

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

08

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

Berita Terbaru