Surabaya, Gonesia.com – Kedatangan gelandang anyar Persebaya Surabaya, Diogo Sa Ramalho, ke Indonesia membawa narasi emosional di balik ambisi profesionalnya di lapangan hijau.
Pemain asal Portugal tersebut mengungkapkan rasa duka mendalam atas kegagalan tim nasional negaranya di Piala Dunia 2026.
Ia menyoroti secara khusus nasib sang idola, Cristiano Ronaldo, yang harus mengakhiri perjalanan turnamen tersebut tanpa raihan gelar juara.
Ramalho menyampaikan kekecewaannya sesaat setelah diperkenalkan secara resmi dalam ajang Media Day Persebaya Surabaya di Surabaya, Rabu (8/7/2026).
Pemain tersebut mengaku sudah mengidolakan sosok kapten tim nasional Portugal itu sejak dirinya masih kecil.
Menurutnya, tersingkirnya Portugal dari Spanyol dengan skor 0-1 merupakan momen yang sangat menyakitkan bagi seluruh pendukung.
Ia meyakini bahwa turnamen edisi tahun ini kemungkinan besar menjadi panggung terakhir bagi Ronaldo di kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia.
“Saya sangat sedih karena saya adalah penggemar Cristiano Ronaldo, dan mungkin ini adalah Piala Dunia turnamen terakhirnya,” ungkap Ramalho.
Ia mengaku sempat menaruh harapan besar agar sang legenda mampu menutup karier internasionalnya dengan trofi yang belum pernah diraihnya.
Kendati demikian, pemain anyar Persebaya ini tetap mengapresiasi kerja keras seluruh skuad Portugal sepanjang turnamen berlangsung.
“Saya menginginkan akhir yang berbeda untuknya, tapi saya tetap senang karena kami telah memberikan yang terbaik dan itulah yang paling penting,” ujarnya.
Kesedihan Ramalho mencerminkan besarnya dampak emosional dari kegagalan Portugal terhadap para penggemar di seluruh dunia.
Momen kekalahan Portugal pada Selasa (7/7/2026) memang menjadi sorotan tajam karena air mata Ronaldo yang terekam kamera saat peluit panjang dibunyikan.
Ekspektasi publik terhadap keberhasilan Ronaldo di Piala Dunia 2026 harus pupus setelah timnya kalah tipis dari Spanyol.
Ronaldo sendiri mengakui bahwa hasil tersebut memberikan pukulan berat bagi dirinya secara pribadi.
“Saya sangat sedih mengakhiri Piala Dunia dengan cara seperti ini,” kata sang kapten dalam keterangannya yang dikutip dari Sky Sports.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya telah mengerahkan seluruh kemampuan terbaik demi membela negaranya.
Terkait masa depan karier internasionalnya, ia memilih untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan krusial.
Ia menyatakan akan menggunakan waktu yang ada untuk menenangkan diri dan berkumpul bersama keluarga terlebih dahulu.
“Saya sudah memberikan segalanya. Saya sudah melakukan yang terbaik. Ya, itu adalah Piala Dunia terakhir saya, tetapi sekarang saya akan punya waktu untuk merenung dan bersama keluarga. Saya tidak akan mengambil keputusan secara gegabah,” lanjutnya.
Ia menegaskan tidak ingin menentukan langkah karier di tengah situasi emosional yang masih menyelimuti pikirannya saat ini.
“Saya tidak akan memutuskan apa pun dalam situasi yang masih dipenuhi emosi. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menentukan apakah saya akan terus bermain atau tidak. Besok saya akan bangun seperti hari ini: dengan hati nurani yang tenang,” tambahnya.
Ronaldo juga mengingatkan kembali kontribusi besar yang telah ia berikan selama 23 tahun membela panji Portugal.
Ia menyoroti bahwa sebelum era kepemimpinannya, Portugal belum pernah meraih gelar juara internasional.
“Saya telah bermain selama 23 tahun bersama tim nasional dan memenangkan tiga gelar,” tegasnya.
Ia membandingkan nilai emosional gelar Piala Eropa 2016 yang dianggapnya memiliki posisi setara dengan Piala Dunia.
“Sebelum Cristiano, Portugal belum pernah memenangkan apa pun. Gelar Piala Eropa adalah yang paling penting. Bagi saya, trofi Euro 2016 nilainya sama besarnya dengan Piala Dunia, sejujurnya,” tutupnya.


