JAKARTA, Gonesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,21% ke posisi 5.885,70 pada penutupan perdagangan sesi pertama, Kamis (9/7/2026).
Peningkatan ini terjadi di tengah dinamika pasar yang masih dibayangi oleh sentimen ketidakpastian geopolitik dan kebijakan evaluasi indeks global.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 319 saham mengalami kenaikan, sementara 268 saham melemah dan 199 saham lainnya stagnan.
Analisis pasar menunjukkan bahwa pergerakan indeks masih cenderung tertahan meskipun terdapat upaya pemulihan setelah tekanan jual pada hari sebelumnya.
“Secara keseluruhan, IHSG menunjukkan upaya rebound setelah koreksi pada hari sebelumnya, didukung rotasi dana ke sektor berbasis komoditas meski investor masih mencermati sentimen eksternal dan pergerakan nilai tukar rupiah,” ujar Analis BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda.
Ia menambahkan bahwa pasar saat ini tengah mengantisipasi dampak dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Kekhawatiran mengenai berakhirnya kesepakatan damai di kawasan tersebut menjadi faktor pemicu munculnya sentimen risk-off di kalangan pelaku pasar.
Selain itu, investor juga terus memantau fluktuasi harga minyak mentah dunia dan arus modal asing yang masuk ke pasar domestik.
“Secara teknikal, IHSG berpotensi melanjutkan koreksi setelah gagal menembus area 6.000, dengan support di 5.805. Selama belum mampu kembali ke atas level psikologis tersebut, tekanan jual diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan IHSG,” lanjutnya.
Sementara itu, CEO Sucor Sekuritas, Benardus Wijaya, menyoroti adanya kecemasan di kalangan investor mengenai kemungkinan penurunan peringkat atau downgrade atas indeks domestik.
Sikap investor asing yang masih memilih untuk wait and see turut mempengaruhi volume transaksi di lantai bursa.
“IHSG sekarang supportnya di level 5.845 dan mudah – mudahan enggak jebol. Kalau kita tembus level 5.969 potensi kita balik ke level 6.000 ke atas dengan resistance selanjutnya di level 6.065,” ucap Benardus.
Ia mengungkapkan bahwa target IHSG di angka 8.000 pada akhir tahun ini sangat bergantung pada hasil evaluasi dari MSCI.
Pihak MSCI diketahui masih membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor maupun Number of Shares untuk seluruh saham Indonesia pada review Agustus 2026.
Keputusan final mengenai perlakuan pasar Indonesia baru akan diumumkan kembali pada pelaksanaan MSCI Index Review bulan November 2026.
Hasil dari tinjauan tersebut dipandang sebagai katalis krusial yang akan menentukan arah pergerakan dana asing ke dalam negeri.
“MSCI masih mengevaluasi ulang indeks kita hingga November, kalau itu belum beres, kita ngga bisa tembus di atas 8.000 karena asing juga takut kalau tiba – tiba kita turun,” jelasnya.
Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar domestik lebih fokus pada aksi korporasi seperti penawaran umum perdana saham atau IPO.
Stabilitas ekonomi makro dan nilai tukar rupiah akan terus menjadi indikator utama bagi investor dalam menentukan strategi portofolio hingga akhir tahun.


