Teheran, Gonesia.com – Militer Iran secara resmi mengeluarkan ancaman terbuka untuk menjadikan seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai target serangan sah jika Washington terus melancarkan agresi militer ke wilayah kedaulatan mereka.
Peringatan keras ini muncul sebagai respons langsung atas serangkaian serangan skala besar yang dilancarkan pasukan Amerika Serikat pada Rabu dini hari.
Komando Pusat AS atau CENTCOM mengonfirmasi bahwa operasi militer tersebut dilakukan sebagai bentuk balasan atas dugaan gangguan yang dilakukan Iran terhadap kapal-kapal komersial di jalur strategis Selat Hormuz.
“Konsekuensi dari pelanggaran gencatan senjata yang berulang (oleh Amerika Serikat) menjadi tanggung jawab Amerika Serikat yang kriminal. Seluruh pangkalan mereka akan menjadi sasaran yang sah untuk diserang menggunakan drone militer,” demikian pernyataan militer Iran yang dikutip kantor berita resmi IRNA pada Rabu (24/5/2024).
Ia menambahkan bahwa eskalasi konflik ini kini telah meluas hingga menyentuh instalasi militer di negara-negara tetangga yang menjadi basis operasional Washington.
Militer Iran mengklaim telah meluncurkan serangan balasan yang menyasar Pangkalan Udara Sheikh Isa yang berlokasi di Bahrain.
Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC turut mengonfirmasi keterlibatan mereka dalam serangan balasan tersebut.
Kelompok ini menyatakan telah menargetkan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait sebagai sasaran strategis.
Selain itu, mereka juga menyerang Pelabuhan Salman di Bahrain yang selama ini menjadi pusat operasional Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat.
Laporan dari media Axios menyebutkan bahwa serangan yang dilancarkan militer AS mencakup berbagai infrastruktur pertahanan krusial milik Iran.
Sasaran utama serangan tersebut meliputi sistem pertahanan udara serta sistem pengawasan pesisir yang selama ini menjadi benteng pertahanan Teheran.
Pasukan AS juga menghancurkan instalasi rudal darat-ke-udara serta titik peluncuran rudal jelajah anti-kapal yang disinyalir mengancam pelayaran internasional.
Fasilitas pelabuhan dan hanggar pesawat nirawak di wilayah Iran turut menjadi target utama dalam operasi militer tersebut.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Axios bahwa intensitas serangan terbaru ini jauh lebih destruktif dibandingkan sebelumnya.
Ia menyebut bahwa serangan kali ini memiliki daya hancur empat hingga lima kali lipat lebih kuat dari serangan serupa yang terjadi 10 hari lalu.
Ketegangan di Selat Hormuz sendiri memuncak setelah adanya laporan mengenai insiden penembakan proyektil terhadap kapal-kapal tanker.
Media PBS News melaporkan terdapat tiga kapal tanker yang menjadi sasaran proyektil saat melintasi jalur krusial tersebut.
Laporan media nasional Iran IRIB pada Selasa menyebutkan sebuah kapal asal Qatar, Al-Rekayyat, sempat mencoba melintasi Selat Hormuz melalui jalur Oman.
Kapal tersebut dilaporkan menerima pengawalan dari Angkatan Laut AS sebelum akhirnya menjadi sasaran serangan setelah mengabaikan sejumlah peringatan.

