JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan potensi penguatan terbatas pada perdagangan pekan depan. Meski sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah di angka Rp 17.424 per dolar AS pada Selasa (5/5), mata uang Garuda kini berusaha mencari keseimbangan baru di tengah ketidakpastian global.
Pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026), rupiah berada di posisi Rp 17.382 per dolar AS. Ketidakpastian ini dipicu oleh berbagai sentimen, mulai dari ketegangan geopolitik hingga data ekonomi domestik yang masih menantang.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup signifikan. Kondisi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang belum mereda, kekhawatiran inflasi, pelebaran defisit transaksi berjalan, serta kontraksi pada data PMI manufaktur yang berada di level 49,1.
“Sentimen sepekan ke depan masih akan dibayangi oleh dampak konflik geopolitik, terutama yang berkaitan dengan blokade Selat Hormuz,” ujar David, Jumat (8/5/2026).
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, yakni *US Non Farm Payrolls* (NFP). Data tersebut menjadi acuan utama pasar dalam memprediksi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve yang berdampak langsung pada pergerakan dolar AS.
*Research and Development* ICDX, Muhammad Amru Syifa, menambahkan bahwa perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait situasi di Selat Hormuz juga menjadi perhatian utama. Hal ini dinilai sangat berpengaruh terhadap harga minyak dunia dan sentimen pasar keuangan global.
Dari sisi domestik, pasar akan terus memantau efektivitas kebijakan stabilisasi yang diterapkan oleh Bank Indonesia, arus modal asing, posisi cadangan devisa, hingga kondisi fiskal nasional.
Melihat kondisi tersebut, Amru memperkirakan rupiah akan bergerak pada rentang Rp 17.250 hingga Rp 17.450 per dolar AS. Sementara itu, David memproyeksikan rupiah berada dalam kisaran Rp 17.200 hingga Rp 17.500 per dolar AS.
Peluang penguatan rupiah masih terbuka lebar apabila sentimen global tetap kondusif dan minat investor terhadap aset di pasar negara berkembang (*emerging market*) meningkat. Namun, para analis tetap mengingatkan pelaku pasar untuk mewaspadai volatilitas jika data ekonomi AS justru lebih kuat dari ekspektasi atau eskalasi geopolitik kembali memanas yang dapat mendorong investor memburu aset *safe haven*.

