JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah signifikan sebesar 204,9 poin atau 2,86 persen ke level 6.969,40 pada perdagangan Jumat.
Penurunan ini dipicu oleh sentimen negatif dari pasar global serta tekanan besar pada sektor pertambangan di dalam negeri. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda, ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menjadi faktor utama yang membebani pergerakan bursa global dan regional Asia.
Selain faktor eksternal, tekanan pada IHSG diperparah oleh rencana pemerintah untuk menaikkan royalti mineral dan batu bara (minerba). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan skema royalti progresif baru untuk meningkatkan penerimaan negara dari komoditas pertambangan.
Berdasarkan usulan tersebut, terdapat revisi tarif untuk sejumlah komoditas utama. Royalti konsentrat tembaga diusulkan naik menjadi 9-13 persen dari sebelumnya 7-10 persen, sementara katoda tembaga meningkat menjadi 7-10 persen dari 4-7 persen.
Untuk komoditas emas, pemerintah mengusulkan kenaikan royalti menjadi 14-20 persen dari sebelumnya 7-16 persen, disertai penambahan rentang harga baru. Royalti perak diubah menjadi progresif di kisaran 5-8 persen, dan royalti timah melonjak menjadi 5-20 persen dari sebelumnya 3-10 persen. Sementara untuk bijih nikel, meski tarif tetap di kisaran 14-19 persen, pemerintah menyesuaikan interval harga agar kenaikan tarif dapat terjadi lebih cepat.
Dampak dari sentimen tersebut terlihat jelas pada kinerja sektoral di BEI. Sektor bahan baku komoditas (IDXBASIC) anjlok 7,80 persen, disusul sektor energi (IDXENERGY) yang terkoreksi 4,59 persen, dan sektor transportasi (IDXTRANS) yang melemah 5,72 persen.
Sepanjang perdagangan, tercatat 607 saham mengalami pelemahan, sementara hanya 138 saham yang menguat dan 214 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp36,07 triliun dengan volume perdagangan sebesar 54,39 miliar saham dari 2,8 juta kali transaksi. Saat ini, total kapitalisasi pasar BEI tercatat berada di level Rp12.405 triliun.
Secara teknikal, IHSG dinilai masih memiliki potensi untuk melanjutkan tren pelemahan. Pasar saat ini terus memantau arah kebijakan moneter global yang menjadi penentu utama pergerakan bursa ke depan.

