Jakarta, Gonesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan tren konsolidasi dengan potensi penguatan terbatas pada perdagangan Jumat (18/9/2026).
Optimisme pasar kini tertuju pada stabilitas teknikal setelah indeks berhasil menutup perdagangan Kamis (17/9) di zona hijau dengan kenaikan 0,40% ke level 6.462,43.
Equity Research Analyst dari Kontan.co.id, Alrich Paskalis Tambolang dari Phintraco Sekuritas, menilai pergerakan pasar saat ini masih dipengaruhi oleh sentimen teknikal yang cukup solid.
“Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level 6.400 dan indikator Stochastic RSI membentuk Golden Cross di area oversold,” ujar Alrich dalam risetnya, Kamis (17/9/2026).
Ia memproyeksikan pergerakan indeks akan berada dalam rentang konsolidasi di level 6.400 hingga 6.550 sepanjang sesi perdagangan esok hari.
Sentimen positif utama datang dari sektor komoditas energi, khususnya penurunan harga minyak mentah Brent yang kembali berada di bawah level US$104 per barel.
Koreksi harga minyak tersebut dipicu oleh kabar mengenai rencana Arab Saudi yang akan memulihkan kapasitas produksi pipa pengiriman minyak secara bertahap.
Pemulihan kapasitas penuh diperkirakan akan memakan waktu sekitar enam pekan, sehingga memberikan sentimen lega bagi pelaku pasar global.
Di sisi lain, pasar juga masih mencerna dampak kebijakan moneter Amerika Serikat pasca keputusan The Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Langkah bank sentral Amerika Serikat tersebut dinilai sudah sesuai dengan ekspektasi pasar, namun sinyal kenaikan suku bunga lanjutan tetap menjadi perhatian serius investor.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, turut memberikan pandangan optimis terhadap pergerakan pasar saham domestik.
“Rentang 6.400-6.510,” kata Nico saat memberikan proyeksi perdagangan IHSG.
Ia menambahkan bahwa investor kini mulai melirik sektor-sektor strategis seperti energi, industri dasar, properti, serta transportasi dan logistik.
Meskipun terdapat potensi penguatan, tantangan makroekonomi domestik masih membayangi sentimen pasar saat ini.
Ia menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah yang melemah 0,33% ke level Rp17.753 per dolar AS pada penutupan Kamis menjadi salah satu faktor penekan.
Perhatian pelaku pasar kini juga mulai bergeser pada arah kebijakan fiskal di bawah kendali Menteri Keuangan baru, Suahasil Nazara.
Komitmen pemerintah dalam menjaga kredibilitas anggaran negara menjadi variabel penting yang dinilai akan memengaruhi kepercayaan investor asing.
Selain itu, pasar mulai meningkatkan kewaspadaan menjelang rapat kebijakan moneter Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada pekan depan.
Investor disarankan untuk tetap mencermati risiko inflasi yang masih bersumber dari ketidakpastian harga energi global.
Penguatan IHSG pada perdagangan sebelumnya didorong oleh sektor consumer cyclicals yang mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 1,63%.
Sebaliknya, sektor kesehatan atau health care justru menjadi penahan laju indeks dengan pelemahan sebesar 0,55% di akhir sesi.
Kombinasi antara sentimen eksternal dan kebijakan domestik akan menjadi penentu arah IHSG di akhir pekan ini.


