Jakarta – Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Menurut dia, langkah itu mencerminkan upaya membangun pondasi kemandirian pertahanan Indonesia di tengah lanskap geopolitik global yang kian rumit.
Amir menyebut, penguatan hubungan pertahanan dengan Prancis perlu dibaca sebagai bagian dari strategi besar untuk memperkuat kedaulatan nasional. Ia menilai, arah kebijakan tersebut sejalan dengan pandangan Prabowo bahwa kemandirian pertahanan memiliki makna yang serupa dengan kemandirian ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam.
“Tidak ada negara yang benar-benar mandiri apabila seluruh kebutuhan strategisnya bergantung kepada negara lain,” ujar Amir, dikutip Selasa, 2 Juni 2026.
Ia menegaskan, ketergantungan akan selalu membuka ruang kerentanan. Karena itu, menurut Amir, kunjungan Prabowo ke Prancis harus dipahami sebagai bagian dari proses panjang untuk membangun kemandirian pertahanan Indonesia secara bertahap dan terukur.
Amir juga menyoroti perubahan situasi global yang kini memasuki fase persaingan kekuatan besar atau great power competition. Dalam situasi ini, negara-negara disebut makin sering menggunakan ekonomi, teknologi, dan pertahanan sebagai instrumen pengaruh politik.
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia dinilai perlu memastikan sistem persenjataan yang dimiliki tidak mudah dipengaruhi kepentingan politik dari negara pemasok.

