Kupang – Di sebuah bangunan sederhana di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Ipda Yunus Labba memimpin doa dengan khidmat. Puluhan anak Panti Asuhan Generasi Pengubah menunduk dalam kekhusyukan, memulai malam dengan harapan.
Usai berdoa, Yunus Labba duduk bersama anak-anak, berbagi kehangatan di ruang makan. Suara senda gurau memecah keheningan malam di Jalan HR Koroh KM 8.
Malam berlanjut dengan belajar bersama. Di bawah cahaya lampu, Yunus Labba membimbing anak-anak dengan sabar, menanamkan ilmu dan nilai-nilai kehidupan.
Delapan tahun sudah Yunus Labba menjadi sosok ayah bagi anak-anak Panti Asuhan Generasi Pengubah. Perjalanannya dimulai jauh sebelum panti itu berdiri.
Pada 2006, Yunus Labba dan istrinya, Marselina Wunda Laba, tergerak melihat tujuh anak hidup dalam kemiskinan. Mereka mengajak anak-anak itu tinggal bersama, menyekolahkan, dan merawat mereka seperti anak sendiri.
Jumlah anak asuh terus bertambah hingga mencapai 24 orang. Yunus Labba, yang saat itu berpangkat Brigadir Polisi, mencari penghasilan tambahan sebagai chief security di Lippo Plaza Kupang.
"Teman-teman bilang, ‘Bro, kalau tidak bikin wadah sosial, nanti kamu akan setengah mati. Kalau ada wadah dapat bantuan pemerintah dan swasta’," kenang Yunus Labba.
Pada akhir 2016, Yunus Labba mengajukan permohonan pendirian panti asuhan. Setahun kemudian, permohonan itu disetujui.
Hingga 2025, Yunus Labba merawat 121 anak. Sekitar 40 persen dari mereka adalah yatim piatu, sisanya yatim, piatu, terlantar, dan keluarga kurang mampu.
Sejak panti asuhan berdiri, Yunus Labba berjuang mencari bantuan. Dia menggadaikan Surat Keputusan (SK) sebagai anggota Polri dan sertifikat rumahnya.
Pinjaman pertamanya mencapai Rp 920 juta. Dana itu digunakan untuk membangun panti, menyediakan makan, serta biaya sekolah anak-anak. Dia juga memulai usaha peternakan dan pertanian.
Total pinjaman yang diambil Yunus Labba melampaui Rp 1 miliar. Setiap bulan, dia harus membayar angsuran sekitar Rp 8 juta.
"Saya ibaratnya tidak menerima gaji. Semua penghasilan saya habiskan untuk membayar angsuran dan kebutuhan anak-anak di panti," ucap Yunus Labba.
Kini, kebutuhan sehari-hari anak-anak dipenuhi lewat bantuan rutin, dukungan rekan-rekan, dan hasil usaha peternakan serta pertanian.
Yunus Labba bangga karena 13 anak asuhnya telah meraih gelar sarjana, sementara 31 lainnya masih kuliah. Total 44 anak merasakan bangku kuliah.
"Kalau ada yang sudah tamat SMA dan tidak ingin lanjut kuliah, saya bilang mereka harus keluar dari panti. Karena sudah saatnya mandiri, mencari pekerjaan, dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri," ujarnya.
Saat ini, Panti Asuhan Generasi Pengubah merawat sekitar 80 anak, mulai dari SD hingga SMA. Setiap anak dibekali makna kehidupan dan semangat perjuangan.
"Saya selalu tekankan pada mereka, bahwa keberhasilan itu bukan hadiah yang datang begitu saja. Hidup itu adalah perjalanan panjang yang diawali dengan perjuangan," ucap Yunus Labba.
Yunus Labba lahir dari kemiskinan. Pada usia 10 tahun, dia meninggalkan kampung halaman untuk mencari pekerjaan di Kupang. Dia bertemu dengan pasangan pendeta, Johanis Blegur dan Asnat Labba, yang menjadi orang tua rohaninya.
Yunus Labba kemudian mengikuti seleksi masuk kepolisian dan diterima. Pada 2020, dia mendapat pin emas dari Kapolri Jenderal Idham Azis. Pada 2023, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberinya kesempatan mengikuti pendidikan Sekolah Inspektur Polisi (SIP).
"Kebanggaan saya adalah ketika kita menolong orang dan mengeluarkan mereka dari kesulitan. Dan itu adalah pekerjaan yang diinginkan Tuhan," ujar Yunus Labba.
Tambilahan – Di Tambilahan, Riau, Ipda Ripal Indrawata membantu anak-anak dari keluarga tak mampu dengan razia sepatu.
"Hari ini saya razia sepatu. Siapa yang sepatunya sudah tak layak, nanti saya ganti dengan yang baru," ucap Ripal.
Ripal menemukan tiga siswa mengenakan sepatu yang sudah robek. Salah satunya adalah anak yatim yang ayahnya meninggal empat bulan lalu.
Ripal juga membangun pondok belajar, merenovasi rumah warga tak mampu, dan mendirikan tempat tinggal bagi kaum marjinal. Dia juga memperbaiki jembatan yang rusak.
"Kalau ditanya, ‘Pak, dananya dari mana?’ Alhamdulillah, saya selain polisi juga punya kebun sawit dikit," ujarnya.
"Kalau ada yang susah, harus dibantu. Mau itu soal pendidikan atau urusan sosial lainnya, saya akan bantu sebisanya," tutur Ripal.
Pada 2020, dia menerima penghargaan dari Kapolda Riau. Pada 2022, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menganugerahkan penghargaan Sekolah Perwira. DPR RI juga memberikan penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Sosial Daerah. Pada 2023, BPIP memberi penghargaan atas dedikasinya menjaga nilai-nilai Pancasila.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa keberadaan polisi harus dirasakan nyata oleh masyarakat.
"Kita harus memberikan pelayanan, serta menjalankan tugas utama kita yaitu melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat," kata Sigit.
Dia mendorong seluruh anggota Polri untuk meneladani Jenderal (Purn) Hoegeng Imam Santoso.
"Setiap anggota memiliki peluang untuk memberi kontribusi positif dari manapun mereka bertugas," ujarnya.
Yunus Labba dan Ripal Indrawata membuktikan bahwa menjadi polisi bukan hanya soal menegakkan hukum, tapi juga menjaga nurani. Mereka adalah wujud nyata polisi humanis.


