JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali tertekan pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp 17.679 per dolar AS, turun 0,06% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp 17.668 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah semakin dalam seiring berjalannya sesi perdagangan. Hingga pukul 10.00 WIB, rupiah menyentuh level terlemah sepanjang masa di angka Rp 17.718 per dolar AS, atau terkoreksi 0,28% secara harian.
Chief Economist BSI, Banjaran Surya Indrastomo, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Secara global, penguatan dolar AS, kenaikan harga energi, serta kondisi *risk-off* akibat eskalasi geopolitik menjadi beban utama bagi mata uang domestik.
Sementara dari dalam negeri, pasar kini menyoroti arah kebijakan fiskal pemerintah. Pelaku pasar mencemaskan potensi pembengkakan subsidi energi akibat tingginya harga minyak dunia, meningkatnya kebutuhan pembiayaan, serta tantangan dalam optimalisasi penerimaan negara.
“Yield Surat Berharga Negara (SBN) yang tinggi juga dapat meningkatkan beban bunga dan rasio pembayaran utang, sehingga biaya pembiayaan pemerintah menjadi lebih mahal,” ujar Banjaran.
Meski demikian, terdapat peluang bagi rupiah untuk kembali menguat. Skenario pemulihan dapat terjadi jika ketegangan geopolitik mereda, harga energi melandai, serta munculnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Selain itu, disiplin APBN dan upaya optimalisasi penerimaan negara menjadi kunci untuk meningkatkan persepsi positif terhadap fiskal Indonesia.
Namun, selama sentimen global masih cenderung *risk-off* dan arus keluar modal asing belum mereda, volatilitas rupiah diprediksi akan tetap tinggi.
Ke depan, para investor perlu terus mencermati sejumlah indikator penting, seperti pergerakan *yield* US Treasury, arah kebijakan The Fed, fluktuasi harga minyak mentah, serta konsistensi komunikasi kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

