Jakarta – Aktivitas penawaran umum perdana saham atau *initial public offering* (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan penurunan signifikan sepanjang awal 2026. Hingga Mei 2026, tercatat hanya satu perusahaan yang melantai di bursa, yakni PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) pada 10 April lalu.
Realisasi tersebut jauh merosot dibandingkan periode yang sama pada 2025, di mana sebanyak 13 perusahaan telah melaksanakan IPO.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyebut lesunya aktivitas IPO dipengaruhi oleh kondisi pasar saat ini. Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung melemah menjadi faktor pertimbangan utama bagi perusahaan.
“Dalam kondisi pasar seperti ini, tentu ada pertimbangan tambahan bagi perusahaan, apakah bisa mendapatkan *pricing* yang optimal atau apakah IPO tersebut dapat terserap dengan baik oleh pasar,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (18/5/2026).
Keputusan Strategis Perusahaan
Jeffrey menegaskan bahwa keputusan untuk melakukan IPO sepenuhnya berada di tangan masing-masing perusahaan serta penjamin emisi. Menurutnya, langkah ini merupakan keputusan strategis yang diambil berdasarkan pertimbangan internal perusahaan terkait kesiapan pasar.
Target IPO Tetap Optimis
Meskipun aktivitas saat ini melambat, pihak BEI tetap optimistis dapat mencapai target 50 perusahaan yang melantai di bursa pada 2026. Target tersebut tergolong ambisius karena hampir dua kali lipat dari realisasi sepanjang 2025 yang mencapai 26 emiten.
Saat ini, sudah ada 15 perusahaan yang masuk dalam *pipeline* pencatatan saham di BEI. “Sampai saat ini kami masih optimistis dengan target tersebut. Jika nanti ada perubahan, tentu akan kami sampaikan,” tambah Jeffrey.
Fokus pada Kualitas Emiten
Di sisi lain, Jeffrey menekankan bahwa BEI kini lebih memprioritaskan kualitas perusahaan yang akan mencatatkan saham dibandingkan sekadar mengejar kuantitas. Strategi ini diambil demi menjamin keberlangsungan dan kesehatan pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.
“Kami sudah sepakat bahwa kualitas diutamakan daripada kuantitas. Kesepakatan tersebut masih menjadi acuan utama kami saat ini,” pungkasnya.

