Jakarta – Anggota Komisi IX DPR RI Achmad Ru’yat mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) membuka ruang bagi penggunaan telur bebek dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut dia, langkah itu tak hanya menambah variasi sumber protein, tetapi juga bisa membantu menyerap produksi peternak bebek yang sedang tertekan rugi.
Achmad menilai, dari sisi gizi, telur bebek memiliki kandungan protein yang baik dan layak masuk dalam pilihan menu MBG. Ia juga menegaskan nomenklatur BGN tidak secara spesifik mewajibkan satu jenis telur tertentu.
“Yang saya tahu di nomenklatur BGN Republik Indonesia kebutuhan protein itu disebutnya di antaranya telur, daging. Telurnya telur apa tidak disebut karena itu mungkin perlu semacam keanekaragaman di samping telur ayam, itu juga penting, juga ada pilihan telur bebek,” kata Achmad di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Ia menambahkan, yang terpenting adalah menu MBG tetap memenuhi standar gizi bagi penerima manfaat. Karena itu, menurut dia, keberadaan telur bebek semestinya tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan alternatif sumber protein yang bisa digunakan.
Di sisi lain, politisi yang juga anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI itu menyoroti minimnya dukungan negara terhadap peternak, khususnya dalam bentuk subsidi pakan. Ia membandingkan kondisi peternak dengan sektor pertanian yang pada APBN 2025 mendapat alokasi subsidi pupuk sebesar Rp46,8 triliun.
“Sedangkan untuk peternak, selama ini memang masih tidak ada subsidi. Sebagai anggota banggar, saya pikir kenapa tidak ada subsidi untuk pakan,” ujarnya.
Achmad menilai negara seharusnya hadir memberikan perlindungan yang adil bagi peternak melalui intervensi anggaran. Menurut dia, keberpihakan fiskal semacam itu menjadi bagian dari fungsi negara dalam melindungi warga, termasuk para peternak bebek yang kini membutuhkan perhatian.

