Lampung – Gagasan KH Abdul Wahab Hasbullah kembali mendapat sorotan di tengah upaya merawat moderasi beragama dan persatuan bangsa. Pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu dinilai masih relevan untuk menjawab tantangan intoleransi, fragmentasi sosial, serta kebutuhan pesantren agar tetap adaptif tanpa meninggalkan prinsip dasar.
Pembahasan mengenai warisan intelektual Kiai Wahab mengemuka dalam bedah buku KH Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri NU Penggerak NKRI bertema The Mastermind of Movement yang digelar di UIN Raden Intan Lampung.
Dalam tayangan video, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan asli Indonesia yang telah teruji oleh waktu. Menurut dia, pesantren memiliki posisi penting dalam menjaga moralitas bangsa.
“Jika dahulu KH Abdul Wahab Hasbullah menggunakan organisasi dan diplomasi untuk menjaga bangsa, maka hari ini kita harus menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjaga kedaulatan bangsa serta martabat kemanusiaan,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Senin, 18 Mei 2026.
Nasaruddin juga menyebut semangat perjuangan Kiai Wahab menjadi salah satu pijakan dalam transformasi kelembagaan pesantren yang kini dijalankan Kementerian Agama. Penguatan Direktorat Jenderal Pesantren disebutnya menjadi bagian dari langkah itu.
Pandangan serupa disampaikan Direktur Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Basnang Said. Ia menilai sejarah perjuangan Indonesia tak bisa dipisahkan dari kontribusi pesantren dan tokoh-tokoh besar seperti Kiai Wahab Hasbullah.
“Ketika berbicara tentang Indonesia dan pesantren, maka tidak lengkap jika tidak membicarakan Kiai Wahab Hasbullah. Beliau bukan hanya pendiri organisasi, tetapi juga pemikir kebangsaan yang menjaga keutuhan Indonesia melalui pendekatan keagamaan yang moderat,” kata Basnang.
Dari pihak keluarga, Ita Rahmawati yang mewakili keluarga besar KH Wahab Hasbullah menegaskan bahwa Kiai Wahab adalah figur yang mampu menempatkan kepentingan keagamaan dan kebangsaan secara seimbang.
Ia menambahkan, Kiai Wahab mengajarkan bahwa moderasi bukan berarti kehilangan pendirian. Sebaliknya, moderasi adalah kemampuan menempatkan kebenaran di tengah berbagai bentuk ekstremitas.
Acara yang berlangsung pada Sabtu, 16 Mei 2026 itu dihadiri sekitar 1.500 peserta dari beragam kalangan, termasuk akademisi dan tokoh daerah.
Kegiatan tersebut ditutup dengan komitmen bersama dalam kampanye “Pesantren Stop Kekerasan” sebagai upaya memperkuat lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan humanis.

