Ekonomi

IHSG Melemah 0,35%, Saham Perbankan Big Caps Tetap Menguat

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa (19/5/2026) dengan terkoreksi 0,35% ke level 6.576,07. Kendati indeks utama melemah, sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar (big banks) seperti BMRI dan BBRI justru mampu mencatatkan penguatan.

Data IDX Mobile menunjukkan, IHSG sempat bergerak di rentang 6.560,12 hingga 6.613,05 pada pukul 09.25 WIB. Sebanyak 261 saham terpantau menguat, 197 saham melemah, dan 501 saham lainnya stagnan. Volume transaksi tercatat sebesar 1,05 miliar saham dengan nilai turnover mencapai Rp659 miliar, sementara kapitalisasi pasar berada di angka Rp11.454 triliun.

Pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar menunjukkan variasi. BBCA dibuka melemah 0,82% ke level Rp6.075, sedangkan BBRI menguat 0,98% ke Rp3.090 dan BMRI naik 0,24% ke Rp4.140. Di sisi lain, saham TPIA tercatat mengalami tekanan cukup dalam dengan penurunan 10,11% ke level Rp3.290, disusul AMMN yang terkoreksi 4,64%.

Fokus pelaku pasar hari ini tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Pasar mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan sebagai respons terhadap tekanan nilai tukar rupiah.

Tim riset BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak pada kisaran support 6.500 dan resistance 6.720. Menurut analis, secara teknikal IHSG masih berada dalam fase konsolidasi bearish, namun kondisi oversold memberikan celah untuk terjadinya technical rebound jangka pendek.

Cek Harga Buyback Emas Antam di Pegadaian Hari Ini 19 Mei 2026

Senada, tim riset Phintraco Sekuritas memprediksi indeks komposit akan bergerak di rentang support 6.400 dan resistance 6.700. Analis menyoroti tren pelemahan rupiah yang menjadi sentimen negatif utama bagi pasar modal saat ini.

“Jika BI Rate dinaikkan, tujuannya adalah meredam depresiasi rupiah lebih lanjut dan meningkatkan daya tarik investasi domestik bagi investor asing melalui yield instrumen yang lebih kompetitif,” jelas analis.

Meski demikian, analis juga mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga membawa konsekuensi berupa meningkatnya biaya pinjaman. Hal ini berpotensi menambah beban bunga bagi korporasi serta menekan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, Gubernur BI memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan mulai menguat mulai Juli 2026. Proyeksi ini berkaca pada pola historis di mana permintaan dolar AS cenderung meningkat pada periode April hingga Juni.

*Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Segala bentuk keuntungan maupun kerugian yang timbul menjadi tanggung jawab pembaca pribadi.*

Prospek Kinerja Semen Indonesia

Komentar

Berita Populer

01

Bapenda Sumbar Latih Pemeriksa Pajak untuk Tingkatkan PAD

02

Purbaya Jelaskan Sumber Gaji Manajer Kopdes Merah Putih

03

Rahmat Saleh Tekankan Guru Bentuk Karakter di Era AI

04

Basarnas Pastikan Masih Bisa Komunikasi dengan Korban Terhimpit Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur

05

TB Hasanuddin Desak Kajian Matang Hibah Kapal Induk Italia

06

AHY Gagas Giant Sea Wall Pantura Libatkan Investor dan 23 Kementerian

07

BSI Maslahat Resmikan Wakaf Sumur Bor, Atasi Krisis Air Desa Maman

08

Pasaman Pacu 400 Atlet Lewati Tes Fisik Porprov 2026

Berita Terbaru










× www.domainesia.com
× www.domainesia.com