Ekonomi

Mengoptimalkan Pemanfaatan Gas Metana untuk Menekan Emisi Sektor Migas

JAKARTA – Organisasi nirlaba Ecadin menilai pengelolaan emisi metana di sektor minyak dan gas (migas) Indonesia memiliki potensi besar sebagai sumber pendapatan baru bagi industri, alih-alih sekadar dianggap sebagai beban biaya operasional. Praktik mitigasi kebocoran gas ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menekan emisi gas rumah kaca yang berdampak signifikan terhadap pemanasan global.

Chief Operating Officer Ecadin, Candra Sri Sutama, menyatakan bahwa pengendalian emisi metana di sektor migas jauh lebih efisien dan ekonomis dibandingkan dengan sektor pertanian maupun pengelolaan limbah. Gas metana yang selama ini terbuang ke atmosfer sebenarnya memiliki nilai ekonomi tinggi karena merupakan komponen utama dalam produk liquefied natural gas (LNG).

“Pengelolaan metana tidak mengakibatkan biaya tambahan, justru bisa menjadi tambahan pendapatan. Gas metana itu bisa dijual, menghasilkan devisa ekspor, dan menjadi pemasukan bagi industri migas itu sendiri,” ujar Candra dalam diskusi media terkait pengelolaan metana di sektor migas.

Secara teknis, metana merupakan gas rumah kaca dengan daya pemanasan sekitar 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida (CO2). Laporan Global Methane Tracker dari International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa sektor bahan bakar fosil menyumbang sekitar 35 persen emisi metana dari aktivitas manusia, dengan total pelepasan mencapai 124 juta ton setiap tahun dari produksi minyak, gas bumi, dan batu bara.

Di sektor migas, terdapat tiga jalur utama kebocoran metana: kebocoran yang tidak disengaja akibat kerusakan segel atau pipa, pelepasan yang disengaja untuk kebutuhan perawatan dan keselamatan, serta pembakaran gas yang tidak sempurna. Ecadin mencatat bahwa volume kebocoran metana di Indonesia secara teoretis setara dengan kapasitas produksi LNG dari beberapa sumur aktif. Dengan demikian, pencegahan kebocoran melalui teknologi yang tepat dapat menjadi alternatif strategis untuk menambah pasokan LNG tanpa harus melakukan pengeboran sumur baru.

Wall Street Bangkit: Saham Nasdaq dan Sektor Cip Rebound Berkat Bargain Hunting

Namun, industri migas domestik dinilai belum mengoptimalkan metana sebagai sumber energi maupun strategi mitigasi iklim. Padahal, pasar global saat ini semakin menuntut transparansi emisi. Investor dan pembeli internasional, seperti Jepang dan Korea Selatan, mulai menjadikan data emisi sebagai kriteria utama dalam penilaian risiko investasi. Perusahaan yang mampu menunjukkan data emisi yang terukur dan transparan cenderung mendapatkan akses pembiayaan yang lebih kompetitif.

Untuk mengatasi persoalan ini, Ecadin merekomendasikan tiga langkah strategis: penegakan aturan yang ketat, perbaikan akurasi pengukuran, dan monetisasi metana. Saat ini, pengukuran emisi di Indonesia masih sangat bergantung pada formula matematis yang sering kali menghasilkan data tidak pasti. Oleh karena itu, penggunaan teknologi pemantauan berbasis satelit dan pengukuran langsung di lapangan sangat diperlukan untuk mendapatkan data yang akurat.

Selain itu, Ecadin mendesak penghentian praktik flaring atau pembakaran gas ikutan yang tidak diperlukan selama proses produksi. Strategi utama yang diusung adalah meminimalisasi kebocoran agar produksi gas dapat dimaksimalkan, sehingga pendapatan industri meningkat dan pelepasan gas ke atmosfer dapat ditekan secara signifikan.

Komentar
Rupiah Melemah dan IHSG Tertekan Hari Ini

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

04

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

05

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

06

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

07

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

08

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

Berita Terbaru