IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Mengatasi Dua Hambatan Utama Pengembangan Energi Terbarukan di Indonesia

SINGAPURA – Kawasan industri di Indonesia kini memiliki minat besar untuk beralih ke energi terbarukan. Namun, tingginya biaya investasi dan kebijakan yang belum mendukung menjadi hambatan utama dalam mempercepat transisi energi bersih di dalam negeri.

Direktur Energi Climate Group, Sam Kimmins, menjelaskan bahwa harga listrik energi terbarukan di Indonesia saat ini masih relatif mahal. Kondisi tersebut dipicu oleh ekosistem kebijakan yang belum memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan investasi langsung ke proyek-proyek energi bersih.

“Alasan utama mengapa energi terbarukan lebih mahal adalah lingkungan kebijakannya. Tanpa investasi langsung dari perusahaan, akan sulit bagi pengembang untuk menekan biaya operasional dan mendapatkan modal murah,” ujar Kimmins dalam agenda Climate Group Asia Action Summit, Kamis (21/5/2026).

Menurut Kimmins, Climate Group tengah mendorong pengembangan kawasan industri berbasis energi terbarukan. Langkah ini menjadi krusial mengingat tingginya permintaan listrik hijau dari sektor industri, terutama untuk memenuhi standar rantai pasok global dan kebijakan *Carbon Border Adjustment Mechanism* (CBAM) di Eropa.

Penggunaan energi bersih, lanjut Kimmins, dapat meningkatkan daya saing kawasan industri Indonesia di mata perusahaan global seperti Nike, Adidas, dan New Balance. Mengingat banyak pemasok di Indonesia melayani berbagai merek secara bergantian, penyediaan listrik hijau oleh pengelola kawasan dinilai menjadi solusi praktis agar pelaku usaha tidak perlu membangun infrastruktur energi sendiri secara mandiri.

Kepercayaan Nasabah Meningkat, DPK BRI Tembus Rp1.580 Triliun

Terkait kampanye RE100, Kimmins mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada 122 perusahaan anggota RE100 yang membeli listrik energi terbarukan di Indonesia. Kehadiran perusahaan multinasional ini diharapkan dapat membantu transfer pengetahuan bagi perusahaan lokal terkait mekanisme pembelian listrik bersih dan pengembangan rantai pasok rendah emisi.

Lebih lanjut, Kimmins menyoroti target pemerintah Indonesia dalam membangun 100 gigawatt energi terbarukan sebagai sinyal positif bagi investor. Ia menekankan bahwa kepastian regulasi dan ketersediaan mekanisme perjanjian pembelian listrik sangat menentukan minat perusahaan global dalam menanamkan modalnya.

Ia mencontohkan keberhasilan Vietnam dalam menarik investasi perusahaan global seperti LEGO yang didorong oleh kemudahan akses terhadap jaringan listrik hijau. Oleh karena itu, Indonesia dinilai perlu mempercepat reformasi pasar energi agar tetap kompetitif sebagai tujuan investasi internasional.

Meski transisi dari ketergantungan bahan bakar fosil selama puluhan tahun bukan perkara mudah, Kimmins mengapresiasi keterbukaan pemerintah Indonesia. Ia melihat adanya dialog konstruktif serta komitmen kuat dari pemerintah untuk melakukan perubahan di sektor energi.

Komentar
Bedah Realisasi Capex dan Prospek Kinerja Emiten LQ45 di 2026

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

04

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

05

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

06

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

07

DPRD Sumbar Desak Perbaikan Jalan Payakumbuh-Lintau Lanjut 2026

08

HUT ke-81 RI, Paspampres kerahkan 1.147 personel dan alusista amankan VVIP

Berita Terbaru