JOMBANG, Gonesia.com – Nama Menteri Agama Nasaruddin Umar kini mengemuka sebagai kandidat kuat dalam bursa pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU.
Dinamika ini mencuat di tengah spekulasi mengenai kesiapan sang profesor tafsir asal Bone tersebut untuk menakhodai organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengonfirmasi bahwa Nasaruddin masuk dalam daftar tokoh potensial yang berpeluang maju.
Ia merinci sejumlah nama lainnya yang juga dipandang memiliki kapasitas serupa untuk memimpin PBNU ke depan.
“Ada Kiai Zulfa Mustofa, ada Gus Yusuf Chudlori, ada Gus Salam Shohib, ada juga Gus Kikin Ketua PWNU Jawa Timur, dan ada juga Prof Nasaruddin Umar,” ujar Gus Ipul sebagaimana dilansir dari JPNN.com.
Kehadiran sosok Nasaruddin dalam kontestasi ini memicu perdebatan mengenai regulasi internal organisasi terkait rangkap jabatan.
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa pemimpin PBNU dilarang keras merangkap jabatan struktural lainnya.
Aturan tersebut merupakan mandat hasil kesepakatan Muktamar Lampung yang bersifat mengikat bagi seluruh jajaran pengurus.
Ketentuan ini dipastikan berlaku pada Muktamar ke-35 dan hanya dapat diubah melalui keputusan muktamirin.
Situasi sempat memanas akibat beredarnya isu bahwa Nasaruddin bersedia melepas jabatannya sebagai Menteri Agama demi memuluskan langkah pencalonannya.
Kabar mengenai pengunduran diri tersebut lantas dibantah secara resmi oleh pihak Kementerian Agama guna meredam spekulasi publik.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menyatakan bahwa informasi tersebut tidak memiliki dasar fakta.
“Itu hoaks. Tidak benar Prof Nasaruddin Umar mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menteri Agama,” kata Thobib dalam keterangan tertulis, Kamis (27/8).
Meskipun isu tersebut ditepis, kehadiran fisik Nasaruddin di lokasi Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, tetap menjadi pusat perhatian.
Ia terlihat tiba di lokasi pada Kamis (27/8) dengan pengawalan ketat di area perhelatan.
Pantauan di lapangan menunjukkan ia langsung memasuki area utama melalui pintu VVIP yang terletak di Lapangan Untung Suropati.
Kehadirannya di tengah perhelatan akbar ini memperkuat sinyal bahwa namanya memang menjadi salah satu poros pembicaraan utama di kalangan peserta muktamar.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Nasaruddin terkait kesediaannya untuk bersaing memperebutkan kursi ketua umum.
Para muktamirin kini tengah menanti perkembangan lebih lanjut mengenai arah dukungan politik dalam muktamar tersebut.
Aturan mengenai larangan rangkap jabatan diprediksi akan menjadi poin krusial yang menentukan langkah para kandidat ke depan.
Setiap pihak yang terlibat dalam bursa calon ketua umum harus mempertimbangkan konsekuensi dari regulasi tersebut sebelum memutuskan untuk maju secara resmi.
Situasi di Jombang saat ini masih terpantau dinamis dengan berbagai lobi politik yang berlangsung di balik layar.
Perhelatan Muktamar ke-35 NU ini menjadi penentu arah kebijakan organisasi keagamaan tersebut untuk periode mendatang.
Para pengamat menilai bahwa sosok ketua umum baru akan menghadapi tantangan besar dalam menjaga independensi organisasi di tengah situasi politik nasional yang terus berkembang.
Seluruh mata kini tertuju pada mekanisme pemilihan yang akan segera berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren Bahrul Ulum.


