Jakarta, Gonesia.com – Pasar modal Indonesia bersiap menghadapi gelombang aksi jual masif yang diprediksi mencapai Rp 13,36 triliun menjelang penutupan perdagangan akhir bulan ini.
Tekanan tersebut dipicu oleh agenda penyesuaian ulang atau rebalancing indeks MSCI yang akan berlaku efektif pada 31 Agustus 2026 mendatang.
Data estimasi dari Bloomberg menunjukkan potensi keluarnya aliran dana asing pasif sebesar US$ 753 juta dari pasar saham domestik.
Angka tersebut mencakup US$ 684 juta dari segmen MSCI Standard Cap dan sekitar US$ 68 juta dari segmen MSCI Small Cap.
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, dalam analisisnya yang dirilis melalui Katadata, menyatakan bahwa tekanan jual pada sejumlah saham tertentu akan meningkat tajam.
Ia menegaskan bahwa intensitas aksi jual tersebut diproyeksikan mencapai puncaknya tepat saat sesi penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026.
“Dan kemungkinan memuncak menjelang sesi penutupan 31 Agustus, ketika passive fund harus menyamakan portfolio dengan komposisi MSCI yang baru,” ujar Liza.
Estimasi dampak terbesar diprediksi akan menimpa saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan potensi outflow mencapai US$ 407 juta.
Selain itu, saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) juga menghadapi tantangan serupa dengan proyeksi net outflow sebesar US$ 127 juta.
Liza menjelaskan bahwa meskipun CPIN masuk ke dalam kategori Small Cap, hal itu belum mampu menutup total tekanan jual yang terjadi akibat keluarnya saham tersebut dari Standard Cap.
Selain saham-saham berkapitalisasi besar, emiten yang terdepak dari indeks Small Cap juga menghadapi risiko volatilitas harga yang signifikan.
Ia menambahkan bahwa dampak terhadap harga saham akan terasa lebih tajam pada emiten yang memiliki likuiditas terbatas di pasar.
Beberapa saham yang berada dalam pengawasan ketat meliputi PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), serta PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).
Risiko tekanan jual ini dinilai semakin besar apabila estimasi arus keluar melampaui nilai rata-rata transaksi harian saham terkait.
Namun, ia mengingatkan bahwa aksi jual ini tidak terjadi secara mendadak pada satu titik waktu saja.
“Namun tidak seluruh penjualan baru akan muncul pada 31 Agustus, karna sebagian fund manager & index-arbitrage investors kemungkinan sudah mulai menyesuaikan posisi sejak hasil review diumumkan,” lanjutnya.
Di balik tekanan tersebut, terdapat peluang bagi saham-saham berkapitalisasi besar lainnya untuk mencatatkan kenaikan posisi.
Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) diperkirakan bakal menerima tambahan aliran dana pasif.
Hal ini terjadi karena adanya peningkatan bobot relatif bagi kedua emiten tersebut dalam komposisi indeks MSCI yang baru.
Liza memastikan bahwa fenomena ini tidak akan memicu aksi jual secara merata ke seluruh konstituen Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Ia menekankan bahwa setelah faktor teknikal ini berakhir, pergerakan harga saham akan kembali ke jalurnya masing-masing.
“Setelah technical overhang selesai, pergerakannya akan kembali ditentukan oleh fundamental, valuasi & prospek bisnis masing-masing,” ucapnya.


