Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan yang solid pada Maret 2026, mencapai 9,49 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan peningkatan tipis dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 9,37 persen.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh kinerja positif di berbagai sektor.
Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi, mencapai 20,85 persen *year on year*. Diikuti oleh kredit modal kerja yang tumbuh 4,38 persen *year on year*, dan kredit konsumsi sebesar 5,88 persen *year on year*.
BI memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang tahun 2026 akan tetap terjaga di kisaran 8 hingga 12 persen. Proyeksi ini didasarkan pada analisis sisi permintaan dan penawaran.
Perry menjelaskan bahwa potensi pembiayaan perbankan masih dapat dioptimalkan. Hal ini terlihat dari fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau *undisbursed loan* yang mencapai Rp 2.527 triliun pada Maret 2026. Angka ini setara dengan 22,59 persen dari total plafon kredit yang tersedia.
Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank dinilai masih memadai. Hal ini didukung oleh rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) yang mencapai 27,85 persen. Selain itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat, yaitu sebesar 13,55 persen secara tahunan pada Maret 2026.
Minat bank untuk menyalurkan kredit juga dinilai masih tinggi. Hal ini tercermin dari persyaratan pemberian kredit yang cenderung longgar, kecuali pada segmen kredit konsumsi dan UMKM. Pengetatan di kedua segmen ini disebabkan oleh tingginya risiko kredit yang ada.
Ke depannya, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat kapasitas pendanaan perbankan. Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah pengembangan instrumen *nontraditional funding* atau non-DPK untuk mendukung penyaluran kredit perbankan.

