Jakarta Selatan – INPEX Corporation mengidentifikasi sejumlah negara di Asia sebagai pasar potensial pembeli gas alam cair (LNG) dari Proyek Abadi Masela. Presiden Direktur INPEX, Takayuki Ueda, menyebut Jepang, Malaysia, hingga Taiwan menjadi tujuan ekspor utama untuk blok migas raksasa tersebut.
Menurut Ueda, tingginya pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia, termasuk Tiongkok dan Korea, mendorong peningkatan kebutuhan LNG yang signifikan. Pernyataan ini disampaikan dalam peresmian tahapan desain teknis proyek gas Lapangan Abadi di Jakarta Selatan pada Kamis, 28 Agustus 2025.
Selain menyasar pasar ekspor, pasokan LNG Abadi juga dipastikan dialokasikan untuk kebutuhan domestik Indonesia. Tiga Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah disiapkan sebagai pembeli, yakni PT PLN (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dan PT Pupuk Indonesia (Persero). INPEX telah menandatangani tiga dokumen heads of agreements (HoA) dengan ketiga perusahaan tersebut.
Ueda menyatakan bahwa HoA ini akan ditindaklanjuti menjadi letter of agreement (LoA) untuk memperjelas dan mengikat kerja sama. Ia optimistis karena kebutuhan energi di Indonesia sangat besar.
Pengembangan Proyek Lapangan Gas Abadi kini telah memasuki tahap front end engineering design (FEED), yang ditargetkan selesai pada Desember 2025. Pengerjaan FEED mencakup empat paket utama, yaitu kilang LNG darat (OLNG), fasilitas terapung FPSO, jaringan bawah laut (SURF), serta pipa ekspor gas (GEP).
Blok Masela dikelola oleh Inpex Masela Ltd. dengan porsi 65 persen hak partisipasi. Sementara itu, PT Pertamina Hulu Energi Masela memiliki 20 persen dan Petronas Masela Sdn. Bhd. 15 persen. Proyek LNG Abadi mencakup pembangunan dua train kilang OLNG berkapasitas total 9,5 juta metrik ton per tahun (mtpa), penyaluran gas pipa 150 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) untuk domestik, serta produksi kondensat 35.000 barel per hari (bcpd).
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengatakan dimulainya FEED merupakan tonggak penting setelah proyek ini tertunda selama 26 tahun. Ia berharap tahap ini bisa rampung dalam tiga bulan. Bersamaan dengan proses FEED, SKK Migas juga paralel menyelesaikan perizinan termasuk analisis dampak lingkungan (amdal), yang ditargetkan selesai September 2025.


