JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat sepanjang periode perdagangan 18–22 Mei 2026. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat indeks merosot tajam sebesar 8,35 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
Hingga penutupan akhir pekan, Jumat (22/5), IHSG parkir di level 6.162,04. Angka ini terkoreksi cukup dalam dari posisi pekan sebelumnya yang berada di level 6.723,32.
Penurunan indeks tersebut juga berdampak pada nilai kapitalisasi pasar bursa. Berdasarkan keterangan resmi BEI pada Ahad (24/5), kapitalisasi pasar menyusut 10,07 persen, dari Rp 11.825 triliun menjadi Rp 10.635 triliun.
Meski indeks terpuruk, aktivitas transaksi harian menunjukkan dinamika yang berbeda. Rata-rata nilai transaksi harian melesat 15,68 persen menjadi Rp 21,77 triliun dibandingkan Rp 18,82 triliun pada pekan lalu.
Sejalan dengan nilai transaksi, volume transaksi harian juga tumbuh 2,53 persen menjadi 36,67 miliar lembar saham dari sebelumnya 35,76 miliar lembar saham. Namun, frekuensi transaksi harian justru menurun 6,5 persen menjadi 2,37 juta kali dari 2,53 juta kali transaksi.
Sementara itu, investor asing terus mencatatkan aksi lepas saham. Pada penutupan perdagangan Jumat, investor asing membukukan nilai jual bersih (*net sell*) sebesar Rp 309,52 miliar. Secara akumulatif sepanjang tahun 2026, total *outflow* investor asing telah mencapai Rp 41,63 triliun.
Di sisi lain, bursa domestik tetap mencatatkan penerbitan instrumen efek baru selama sepekan terakhir. BEI mencatat dua obligasi dan satu sukuk.
Pada Senin (18/5), PT TBS Energi Utama Tbk mencatatkan Obligasi Berkelanjutan I TBS Energi Utama Tahap III Tahun 2026 senilai Rp 175 miliar.
Selanjutnya pada Jumat (22/5), dua instrumen lain resmi dicatatkan, yakni Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Samudera Indonesia Tahap III Tahun 2026 senilai Rp 700 miliar oleh PT Samudera Indonesia Tbk, serta Obligasi Berkelanjutan I Energi Mega Persada Tahap III Tahun 2026 senilai Rp 500 miliar oleh PT Energi Mega Persada Tbk.

