Jakarta – PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa penurunan harga minyak mentah dunia tidak serta-merta diikuti dengan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar domestik dalam waktu bersamaan. Penyesuaian harga memerlukan mekanisme evaluasi yang mempertimbangkan berbagai tahapan proses dari pengolahan minyak mentah hingga menjadi produk siap konsumsi.
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa terdapat jeda waktu antara fluktuasi harga minyak mentah internasional dengan penetapan harga jual BBM di Indonesia. Hal ini berlaku baik saat harga minyak dunia sedang mengalami kenaikan maupun penurunan.
“Tren harga minyak mentah tidak otomatis mengubah harga jual BBM di dalam negeri di saat yang bersamaan. Ada jeda waktu, demikian juga saat harga naik. Hal ini dikarenakan ada tahap atau proses lanjutan setelah harga internasional berubah,” ujar Roberth saat dikonfirmasi, Rabu (17/6).
Menurut Roberth, penentuan harga BBM di dalam negeri mengacu pada rata-rata harga minyak dunia dalam kurun waktu satu bulan. Kebijakan ini diterapkan sebagai upaya perusahaan untuk menjaga stabilitas harga, meskipun kondisi pasar global sempat mengalami guncangan.
Ia mencontohkan, Pertamina telah menahan harga jual Pertamax dalam durasi yang cukup lama. Langkah tersebut diambil guna meredam dampak lonjakan harga minyak mentah dunia yang sempat menembus level di atas USD 100 per barel akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran sejak Februari 2026.
“Harga Pertamax sebagai contoh telah melalui periode waktu di mana harga keekonomiannya dipertahankan dengan harga lama. Hal ini berbeda dengan harga Solar non-subsidi yang memang mengikuti harga pasar,” tambah Roberth.
Meski demikian, Pertamina tetap membuka peluang untuk melakukan penyesuaian harga Pertamax ke arah yang lebih rendah. Penyesuaian tersebut akan dilakukan apabila tren penurunan harga minyak mentah dunia konsisten bertahan hingga berada di bawah level USD 80 per barel.
Sebagai produk BBM non-subsidi, Pertamax memiliki karakteristik harga yang fluktuatif mengikuti mekanisme pasar. Roberth menegaskan bahwa penurunan harga produk tersebut sangat mungkin terjadi jika kondisi fundamental ekonomi dan harga komoditas energi global mendukung.
Pihaknya berharap agar kondisi geopolitik di Timur Tengah dapat segera membaik. Stabilisasi situasi di kawasan tersebut diyakini akan memberikan dampak positif bagi normalisasi harga minyak dunia.
Selain faktor harga minyak, normalisasi harga BBM non-subsidi juga sangat dipengaruhi oleh penguatan nilai tukar mata uang. Pertamina berkomitmen untuk menyesuaikan harga jual produk non-subsidi sesuai dengan kondisi pasar yang berlaku saat ini.
Langkah ini mencerminkan upaya perusahaan dalam menyeimbangkan kepatuhan terhadap mekanisme pasar dengan komitmen menjaga keberlangsungan pasokan energi domestik. Pertamina terus memantau dinamika harga global untuk menentukan kebijakan harga BBM yang tepat bagi masyarakat.


