JAKARTA, Gonesia.com – FIFA secara resmi menghentikan rencana kontroversial terkait penjualan 20 persen saham unit operasional Piala Dunia setelah menghadapi gelombang penolakan masif dari berbagai konfederasi sepak bola internasional.
Keputusan krusial ini diambil pada Minggu, 2 Agustus 2026, sebagai respons atas tekanan kolektif dari pemangku kepentingan yang mengkhawatirkan komersialisasi berlebihan pada turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia tersebut.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyatakan bahwa kebijakan tersebut dibatalkan setelah ia mempertimbangkan berbagai masukan kritis dari para pemangku kepentingan global.
“Proposal itu tidak lagi sejalan dengan tujuan untuk menjaga persatuan dalam sepak bola dunia,” ujar Infantino sebagaimana dilansir dari laman Flashscore.
Rencana awal FIFA sebenarnya bertujuan untuk menghimpun dana segar senilai USD 4,2 miliar atau setara dengan Rp68,5 triliun.
Dana jumbo tersebut sedianya akan dialokasikan untuk mendukung program pengembangan infrastruktur sepak bola di berbagai negara anggota.
Namun, skema bisnis tersebut memicu perdebatan sengit karena dinilai berpotensi mengubah ajang Piala Dunia menjadi sekadar instrumen investasi bagi pihak swasta.
Ketegangan mencapai titik didih ketika UEFA secara terbuka melayangkan ancaman boikot terhadap seluruh turnamen yang diselenggarakan oleh FIFA.
Sikap tegas dari badan sepak bola Eropa tersebut kemudian memicu efek domino bagi konfederasi lainnya.
Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyatakan solidaritas penuh terhadap posisi UEFA.
Ketiga konfederasi besar tersebut tercatat mewakili lebih dari separuh total anggota resmi FIFA di seluruh dunia.
Kekuatan oposisi yang signifikan ini membuat dukungan terhadap proposal penjualan saham tersebut dipastikan tidak akan mencapai kuorum yang diperlukan.
Menghadapi realitas politik internal yang tidak menguntungkan, FIFA akhirnya memilih untuk melipat rencana tersebut demi menjaga stabilitas organisasi.
Langkah mundur ini sekaligus mengakhiri polemik panas yang telah berkembang luas sejak wacana investasi tersebut pertama kali mencuat ke publik beberapa hari lalu.
Infantino menegaskan bahwa organisasinya kini akan memfokuskan kembali energi untuk membangun kesepahaman dengan seluruh anggota.
Ia menambahkan bahwa FIFA akan terus berupaya mencari jalan alternatif dalam mengembangkan ekosistem sepak bola dunia.
Prioritas utama tetap diarahkan pada negara-negara yang membutuhkan dukungan finansial dan teknis lebih besar tanpa harus mengorbankan independensi turnamen.
Keputusan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa FIFA masih sangat bergantung pada konsensus konfederasi dalam mengambil kebijakan strategis berskala besar.
Ke depan, FIFA diprediksi akan lebih berhati-hati dalam menyusun langkah yang melibatkan keterlibatan pihak investor eksternal dalam operasional turnamen.
Stabilitas di dalam tubuh federasi sepak bola dunia kini menjadi fokus utama pasca-pembatalan rencana investasi tersebut.


