IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Ekspansi Tambang Emas Dorong Kinerja PTRO, Simak Rekomendasi Sahamnya

JAKARTA – Prospek kinerja PT Petrosea Tbk (PTRO) diprediksi tetap cerah sepanjang 2026. Optimisme ini didorong oleh langkah strategis perusahaan dalam mendiversifikasi portofolio bisnis dengan merambah industri tambang emas di Papua Nugini.

Langkah ekspansi tersebut ditandai dengan penyelesaian penawaran mengikat (*binding offer*) dengan Tolu Minerals Limited pada 20 April 2026. Melalui transaksi ini, Petrosea memperoleh *convertible note* senilai AUS$ 23,75 juta sekaligus membuka peluang kerja sama operasional di sektor emas.

Senior Research Analyst NH Korindo Sekuritas Indonesia, Axell Ebenhaezer, menilai langkah ini menjadi katalis utama pertumbuhan pendapatan PTRO dalam jangka panjang. Potensi bisnis di Papua Nugini dipandang masih sangat besar dan belum tergarap optimal.

Selain itu, diversifikasi ini dinilai sebagai langkah tepat untuk memperkuat stabilitas pendapatan perusahaan. Berbeda dengan sektor batubara yang rentan terhadap volatilitas, komoditas emas cenderung lebih tahan terhadap gejolak ekonomi global.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa keterlibatan PTRO sebagai kontraktor jasa pertambangan di proyek emas akan mempertebal margin keuntungan perusahaan. Strategi ini selaras dengan visi perseroan yang menjadikan proyek internasional sebagai mesin pertumbuhan masa depan.

DPLK Bank BJB Tingkatkan Literasi Perencanaan Dana Pensiun Masyarakat

Kinerja keuangan PTRO sendiri menunjukkan tren positif yang signifikan. Pada kuartal I-2026, perusahaan mencatatkan pendapatan sebesar US$ 284,13 juta, melonjak 84,24% secara tahunan (*year on year*). Laba bersih perseroan pun tumbuh 50,54% menjadi US$ 1,39 juta.

Sejumlah analis memproyeksikan pendapatan PTRO pada akhir 2026 dapat mencapai US$ 1,27 miliar, atau naik 43% dibandingkan realisasi tahun 2025. Laba bersih juga diprediksi melesat hingga 135,9% menjadi US$ 68 juta.

Pertumbuhan tersebut bakal ditopang oleh beberapa katalis utama, di antaranya monetisasi *backlog* dari kontrak jangka panjang dengan Freeport Indonesia dan Bara Prima Mandiri, serta ekspansi proyek *engineering, procurement, and construction* (EPC) ke Pakistan melalui Reko Diq Mining Company.

Kendati prospeknya positif, investor tetap perlu mencermati beberapa risiko. Tantangan utama datang dari potensi perubahan regulasi pertambangan domestik, seperti pemangkasan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) serta kenaikan pajak. Selain itu, faktor cuaca dan risiko keterlambatan eksekusi proyek di lapangan tetap menjadi perhatian.

Terkait rekomendasi saham, Axell menyarankan beli (*buy*) dengan target harga Rp 8.000 per saham. Senada, praktisi pasar modal sekaligus Founder WH-Project, William Hartanto, juga memberikan rekomendasi beli dengan target harga Rp 6.350 per saham. Sementara itu, dari sisi teknikal, Nafan Aji Gusta menyarankan investor untuk bersikap *wait and see*.

Daftar Saham LQ45 dengan PER Terendah dan Tertinggi 9 September 2026

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

04

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

05

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

06

Program B50 Resmi Meluncur, Ini Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten CPO

07

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

08

DPRD Sumbar Desak Perbaikan Jalan Payakumbuh-Lintau Lanjut 2026

Berita Terbaru