Jakarta, Gonesia.com – PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA) diproyeksikan akan mencatatkan lonjakan kinerja yang signifikan pada paruh kedua tahun 2026.
Optimisme ini muncul seiring dengan jadwal rilis berbagai film internasional berskala besar yang dijadwalkan tayang di jaringan bioskop perusahaan tersebut.
Equity Research Associate Samuel Sekuritas Indonesia, Fadhlan Banny, mengungkapkan bahwa sederet judul film global populer menjadi motor penggerak utama pertumbuhan jumlah penonton.
“Rangkaian film internasional tersebut berpotensi mendorong hingga 20 juta penonton,” ujarnya dalam riset terbaru yang diterbitkan akhir pekan ini.
Deretan film yang dinanti pasar tersebut mencakup waralaba besar seperti Minions, Jumanji, Spider-Man, hingga Avengers.
Adanya katalis positif dari sisi konten film membuat Samuel Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli atau buy untuk saham emiten pengelola bioskop Cinema XXI ini.
Kendati demikian, analis melakukan penyesuaian turun terhadap proyeksi kinerja perusahaan sepanjang tahun 2026 sebesar 5,5 persen.
Langkah konservatif ini diambil sebagai respons atas kondisi makroekonomi yang menantang selama periode berjalan.
Ia menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang membebani efisiensi operasional perusahaan.
Selain itu, kenaikan biaya operasional secara umum serta tingkat suku bunga yang berada di level tinggi turut menekan margin keuntungan.
Dalam analisis terbarunya, ia juga merevisi target harga saham CNMA menjadi Rp110 per lembar dari angka sebelumnya di Rp170 per lembar.
Penyesuaian target harga ini menggunakan pendekatan valuasi price to earnings ratio (PER) yang lebih berhati-hati.
Meskipun terdapat koreksi target harga, ia menilai bahwa valuasi saham CNMA saat ini masih berada dalam posisi yang sangat menarik bagi investor.
Harga saham perusahaan telah mengalami penurunan sekitar 23 persen sejak awal tahun atau year-to-date.
Estimasi PER untuk tahun 2027 berada di level 8,6 kali, yang mencerminkan diskon sekitar 40 persen dibandingkan rata-rata sektornya.
Daya tarik investasi juga diperkuat oleh kebijakan perseroan yang konsisten membagikan dividen dengan payout ratio hingga 100 persen.
Estimasi imbal hasil dividen atau dividend yield bagi para pemegang saham diproyeksikan mencapai level 10,4 persen.
Sementara itu, kinerja operasional perusahaan pada semester I-2026 tercatat berada dalam fase moderat.
Data industri menunjukkan total penonton bioskop nasional mencapai 52,7 juta orang dari 259 judul film yang dirilis sepanjang enam bulan pertama.
Dengan asumsi penguasaan pangsa pasar sebesar 70 persen, CNMA diperkirakan membukukan sekitar 36,7 juta penonton pada semester I-2026.
Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 13,6 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Namun, ia menambahkan bahwa jumlah penonton sebenarnya menunjukkan tren pemulihan yang cukup solid secara kuartalan.
Terdapat kenaikan jumlah penonton sebesar 37,5 persen pada kuartal II-2026 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Pencapaian ini tetap terjadi meski secara tahunan masih tercatat turun 25,7 persen akibat efek basis tinggi di tahun lalu.
Untuk kinerja kuartal II-2026, perusahaan diperkirakan mampu mencatatkan pendapatan sekitar Rp1,5 triliun.
Laba bersih pada periode tersebut diproyeksikan berada di kisaran Rp200 miliar hingga Rp250 miliar.
Realisasi tersebut dinilai masih selaras dengan ekspektasi pasar, yakni memenuhi sekitar 30 hingga 32 persen dari target tahunan.
Memasuki paruh kedua tahun 2026, prospek pertumbuhan diprediksi akan semakin membaik seiring dengan penguatan margin.
Sektor penjualan makanan dan minuman atau food and beverage (F&B) dipastikan akan memberikan kontribusi lebih besar terhadap pendapatan total di samping box office.
Selain film internasional, ia menegaskan bahwa industri film lokal tetap menjadi penopang utama kestabilan jumlah penonton.
Genre horor, drama, dan komedi masih menjadi primadona yang memiliki basis massa penonton sangat kuat di Indonesia.
Walaupun prospek terlihat cerah, ia tetap mengingatkan adanya risiko yang perlu diwaspadai oleh para investor.
Risiko utama mencakup potensi penurunan minat penonton jika kualitas film tidak sesuai dengan ekspektasi publik.
Selain itu, tekanan dari kondisi ekonomi domestik yang fluktuatif dapat memengaruhi daya beli masyarakat terhadap hiburan bioskop.


