Jakarta – Como 1907 sukses mewujudkan dongeng indah di kancah sepak bola Italia. Klub yang bermarkas di tepian Danau Como ini memastikan diri lolos ke Liga Champions musim depan setelah mengakhiri kompetisi Serie A 2025/2026 di posisi empat besar.
Keberhasilan klub milik Djarum Group ini sekaligus menyingkirkan dua raksasa tradisional Italia, Juventus dan AC Milan. Como finis di peringkat keempat dengan koleksi 71 poin, memaksa Milan dan Juventus puas berada di urutan kelima dan keenam klasemen akhir.
Pencapaian ini tergolong luar biasa mengingat Como baru dua musim mencicipi kasta tertinggi Liga Italia. Tim asuhan Cesc Fabregas tersebut melesat tajam sejak promosi pada musim 2024/2025, mengungguli klub-klub mapan dengan strategi yang sangat matang.
Sepanjang musim ini, Como tercatat sebagai salah satu tim dengan jumlah kekalahan paling sedikit. Produktivitas serangan mereka pun sangat impresif dengan torehan 65 gol, melampaui catatan gol AC Milan, AS Roma, hingga Juventus.
Tak hanya tajam di lini depan, Como juga menyandang predikat sebagai tim dengan pertahanan terbaik di Serie A musim ini. Mereka hanya kebobolan 29 gol, lebih sedikit dibandingkan sang pemuncak klasemen Inter Milan maupun Napoli.
Kebangkitan Como dimulai sejak Djarum Group mengakuisisi klub ini pada 2019. Sebelumnya, pada 2018, Como sempat dinyatakan bangkrut sebelum akhirnya merangkak naik dari kasta kelima (Serie D) hingga kembali ke kasta elit sepak bola Italia.
Berbeda dengan pemilik klub kaya lainnya, Djarum Group memilih membangun klub secara bertahap dari bawah. Meskipun kekayaan konglomerat asal Indonesia ini dilaporkan melampaui pemilik Manchester City, Sheikh Mansour, mereka tetap mengedepankan manajemen keuangan yang sehat dan terukur.
Pada bursa transfer lalu, Como tidak melakukan pembelian pemain secara jor-joran. Pembelian termahal mereka sejauh ini adalah Jesus Rodriguez dari Real Betis senilai 22,5 juta euro. Strategi efisien ini terbukti ampuh di bawah arahan pelatih Cesc Fabregas.
Presiden Como, Mirwan Suwarso, mengungkapkan bahwa klub sangat fokus mencari bakat muda potensial dengan harga terjangkau. Kolaborasi antara manajemen, tim pemandu bakat, serta Fabregas yang juga pemegang saham minoritas, menjadi kunci evolusi klub.
Kini, tantangan baru menanti Como di pentas Eropa. Berlaga di Liga Champions musim depan menuntut kedalaman skuad yang lebih mumpuni agar mampu bersaing dengan klub-klub raksasa dunia tanpa kehilangan daya saing di kompetisi domestik.
Evolusi konsisten yang ditunjukkan Como membuktikan bahwa pengelolaan klub yang tepat dapat mengubah tim gurem menjadi penantang gelar yang disegani. Publik kini menanti sejauh mana langkah klub “Rasa Indonesia” ini berbicara di panggung internasional.

