IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Berita

BMKG Prediksi Hujan Lebat Picu Longsor Susulan di Majenang Pekan Depan

Cilacap – Tanah longsor dahsyat menerjang Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada Kamis malam, 13 November 2025. Bencana ini terjadi setelah wilayah tersebut diguyur hujan intensitas tinggi selama beberapa hari berturut-turut. Sembilan korban tewas telah dievakuasi, sementara 14 korban lainnya masih dinyatakan hilang.

Longsoran tanah menimbun area seluas 6,5 hektare di dua dusun di Desa Cibeunying, Majenang. Tim SAR gabungan masih terus bekerja keras melakukan pencarian dan evakuasi di lokasi kejadian.

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto, menjelaskan bahwa hujan lebat menjadi pemicu utama. Pengamatan di Pos Hujan Majenang mencatat curahan hujan signifikan, yaitu 98,4 milimeter pada 10 November dan 68 milimeter pada 11 November 2025. Hujan ringan yang menyusul kemudian turut mempertahankan kondisi tanah tetap basah hingga memicu pergerakan tanah.

“Rangkaian hujan tersebut membuat kondisi tanah semakin basah dan lereng menjadi lebih rentan terhadap pergerakan,” ujar Guswanto dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 15 November 2025.

Menurut Guswanto, kondisi atmosfer memang mendukung pembentukan awan hujan di Jawa Tengah dalam beberapa hari terakhir. Aktivitas fenomena MJO (Madden Jullian Oscillation) serta gelombang atmosfer lainnya turut memperkuat proses ini. Ia menambahkan, pusaran angin di perairan barat Lampung dan selatan Bali, serta zona belokan angin di sekitar Jawa, juga meningkatkan intensitas pertumbuhan awan.

BK DPR RI Perkuat Telesurvei untuk Susun RUU Akurat

BMKG sebelumnya telah mengeluarkan Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Ekstrem. Wilayah Cilacap, termasuk Kecamatan Majenang, berpotensi mengalami cuaca ekstrem pada periode 11–20 November 2025. Hujan sedang hingga lebat diperkirakan dapat terjadi kembali pada 19–22 November 2025.

Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan bahwa pemantauan atmosfer menunjukkan kelembapan udara sangat tinggi, mencapai 70–100 persen pada lapisan 850, 700, dan 500 mb. Kondisi udara yang basah di berbagai ketinggian ini, jelasnya, mendukung pembentukan awan hujan dalam jumlah besar, sehingga meningkatkan potensi hujan sedang hingga lebat disertai kilat dan angin kencang.

Memperhatikan potensi tersebut, Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menyatakan kesiapan penuh untuk mendukung penanganan darurat pascabencana. BMKG mengusulkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mengurangi ancaman hujan deras atau cuaca ekstrem dengan menurunkan intensitas curah hujan sebelum memasuki daerah terdampak longsor.

“Skema penerapan OMC yang disiapkan berfokus pada pengamanan daerah bencana longsor sehingga daerah Majenang terbebas dari hujan deras yang berpotensi memicu longsor susulan atau mengganggu proses evakuasi,” kata Seto.

Kepala Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap, Bagus Pramujo, menambahkan bahwa BMKG terus memberikan dukungan kepada BASARNAS, BPBD, BNPB, dan instansi daerah dalam penanganan di lapangan. Dukungan ini berupa penyediaan informasi prakiraan cuaca harian yang lebih rinci dan difokuskan untuk wilayah Desa Cibeunying.

Adang Soroti Kesiapan Polres Jakut Terapkan KUHP-KUHAP Baru

“BMKG juga telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada hari ini (15/11) dan terus memperbarui prakiraan cuaca harian,” katanya. “Informasi meteorologis yang tepat waktu sangat dibutuhkan untuk mendukung mitigasi dan mengantisipasi kemungkinan longsor susulan.”

Ancaman Dua Bibit Siklon Tropis

Di sisi lain, Guswanto mengungkap BMKG mendeteksi adanya dua bibit siklon tropis, yakni 97S dan 98S, yang saat ini aktif di dekat wilayah Indonesia. Meskipun potensinya rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 72 jam ke depan, dampaknya tetap dianggap signifikan.

Bibit siklon ini berpotensi memicu cuaca ekstrem dan gelombang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia. Dampak cuaca ekstrem ini diperkirakan berlangsung pada 15-16 November. Kondisi pendukung seperti suhu muka laut yang hangat serta aktivitas MJO yang meningkat tetap memicu dampak nyata berupa hujan lebat dan gelombang tinggi.

Lebih rinci, bibit siklon 97S dapat memberikan dampak cuaca signifikan berupa hujan lebat hingga sangat lebat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hujan sedang hingga lebat juga berpotensi terjadi di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan NTB. Angin kencang berpotensi menerpa NTB dan NTT. Sementara itu, gelombang tinggi 1,25 – 2,50 meter berpotensi terjadi di Samudra Hindia sebelah selatan Jawa hingga NTT, perairan selatan Jawa hingga NTT, Selat Bali bagian selatan, Selat Sumba bagian barat, dan Laut Sawu.

Komisi III DPR RI Gelar RDPU Bahas RUU Perampasan Aset

Dampak tidak langsung dari bibit siklon 98S berupa potensi gelombang tinggi 2,5 – 4,0 meter di Samudra Hindia sebelah barat Lampung. Gelombang tinggi 1,25 – 2,50 meter berpotensi terjadi di Samudra Hindia sebelah barat Aceh hingga Bengkulu, perairan barat Aceh hingga Lampung, dan Selat Sunda bagian selatan. Bibit siklon ini juga berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat di Bengkulu, Lampung, Banten, dan Jawa Barat, serta angin kencang di wilayah Bengkulu, Lampung, Banten, dan Jawa Barat bagian selatan.

Komentar

Berita Populer

01

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

02

HUT ke-81 RI, Paspampres kerahkan 1.147 personel dan alusista amankan VVIP

03

DPRD Sumbar Desak Perbaikan Jalan Payakumbuh-Lintau Lanjut 2026

04

Kementerian Lingkungan Hidup Menanti Hasil Lab Cisadane, Pastikan Kualitas Air

05

Polres Tanah Datar Tangkap Mahasiswa Diduga Edarkan Sabu

06

BSPS Bangun Rumah Layak, Hidupkan Ekonomi Lokal

07

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

08

Satpol PP, Tiga Pilar Patroli Taman Cawang, Cegah Penyalahgunaan dan Jaga Keamanan

Berita Terbaru